Danyang, Tradisi Unik di Desa Mangga Dua

Desa Mangga Dua adalah desa yang terdiri dari IV Dusun. Desa ini terletak di daerah naungan Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai. Penduduknya berkisar 5.003 Jiwa, sebagian besar bermata pencaharian petani dan mayoritas suku Jawa. Desa Mangga Dua merupakan daerah perairan (persawahan) dan banyak menghasilkan sumber pertanian. Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang mempunyai kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat supranatural. Sifat supranatural tersebutlah yang kemudian dikenal dengan kosmologi.

Di Desa Mangga Dua ini terdapat sosok yang dipercaya memiliki kekuatan dan pengaruh besar bagi masyarakat setempat, mereka menyebut sosok itu dengan Dayang.

Dayang umumnya adalah nama lain dari demit (yang adalah kata dasar Jawa yang berarti halus). Seperti demit, Dayang tinggal menetap di suatu tempat yang disebut punden; seperti demit, mereka merespons permintaan tolong orang dan sebagai imbalannya, menerima janji akan slametan. Seperti demit, mereka tidak menyakiti orang, hanya bermaksud melindungi. Namun, berbeda dengan demit, beberapa Dayang dianggap sebagai arwah dari tokoh-tokoh sejarah yang sudah meninggal, pendiri desa tempat mereka tinggal, orang pertama yang membabat tanah.

Setiap desa biasanya mempunyai Dayang utama. Dayang desa, ketika mereka masih hidup sebagai manusia, datang ke desa selagi masih berupa hutan belantara, membersihkannya serta membagi-bagi tanah kepada para pengikutnya, keluarganya, teman-temannya dan ia sendiri menjadi Kepala Desanya (Lurah) yang pertama.

Sesudah meninggal, ia biasanya dimakamkan di dekat pusat desa dan makamnya lalu menjadi punden. Ia sendiri terus memperhatikan kesejahteraan desanya (namun kadang-kadang makam khusus untuk Dayang pendiri ini tidak ada).

Orang-orang tertentu mungkin masih menganggap diri mereka sebagai keturunannya dan ia dianggap masih menentukan secara magis siapa yang akan jadi Kepala Desa, dengan cara mengawasi gerak-gerik sejenis makhluk halus politik yang khusus yang disebut Pulung. Ia mengatakan bahwa ada semacam “barang spiritual” yang disebut Pulung. Barang yang bisa dilihat dan berbentuk bulan itu, turun kepada calon yang terpilih untuk Kepala Desa. Hanya para Kepala Desa dan raja yang memiliki Pulung (Pulung raja lebih besar), yang menunjukkan bahwa kedudukan Kepala Desa lebih penting daripada Bupati atau wedono. Para calon seringkali duduk di lapangan desa dan Pulung melayang-layang di atas mereka untuk memilih orang yang paling murni.

Calon Lurah kadang mengadakan slametan di makam Dayang untuk menarik Pulung itu. Terdapat satu Pulung untuk setiap desa. Ia tinggal bersama Lurah sampai Lurah itu meninggal atau tak mampu lagi berbuat kemuliaan. Daerah yang berada di bawah kekuasaan Dayang desa disebut kumara. Kumara atau kemara berarti suara yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan, seperti kalau seorang dukun termahsyur meninggal, dua minggu sesudahnya, orang akan mendengar suaranya secara tiba-tiba tanpa ketahuan sumbernya. Dengan demikian, kumara meliputi seluruh ruang di atas desa, di mana orang bisa mendengar suara manusia yang berbicara dari permukaan tanah. Sebagai tambahan keempat pojok desa kadang-kadang dianggap dihuni oleh makhluk halus pelindung, seringkali juga disebut Dayang, yang dianggap sebagai anak-anak Dayang yang utama yang bertempat tinggal di pusat desa.

Di Desa Mangga Dua masyarakat yang mayoritas suku Jawa masih mempercayai adanya danyang dan masih melibatkan danyang pada hajatan mereka yaitu dengan cara meminta bantuan agar hajatan berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir tanpa ada hambatan apapun.

Masyarakat meminta bantuan tersebut melalui sesepuh desa atau biasa anggota masyarakat menyebutnya dengan dukun manten yang menyampaikan kepada Danyang segala permintaan mereka seperti acara hajatan yang berjalan dengan lancar dan selamat-selamat saja.

Biasanya masyarakat meminta tolong kepada Danyang satu hari sebelum hajatan berlangsung dengan memberikan sesajen di tempat hunian Danyang. Sesajen yang diberikan berupa bahan-bahan dapur yang mentah seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih, rokok, bunga atau kembang dan makanan untuk hajatan seperti sayuran yang sudah dimasak, mie goreng serta uang 200 & 500 rupiah.

Uang sendiri diberikan kepada Danyang untuk menutupi jika ada bahan sesajen yang kurang banyak menurut danyang tersebut, istilahnya agar dia dapat membeli sendiri apa yang kurang dan tidak mengganggu jalannya hajatan.

69 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *