Menggambar Sosok Soekirman lewat “Jejak Sang Pelayan Rakyat”

Perbaungan,
Kedekatan Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir. Soekirman dengan dunia literasi telah terbukti lewat belasan karya hasil buah pikirannya yang diterbitkan dalam bentuk buku. Tidak berhenti di situ, Bupati Soekirman kembali me-launching bukunya yang berjudul “Jejak Sang Pelayan Rakyat”, bertempat di kediamannya, Jalan Coklat Kelurahan Batang Terap Kecamatan Perbaungan, Kamis (21/05/2020).
Berbeda dari buku-buku sebelumnya, karya ketiga belas ini berisi 14 tulisan para sahabat Soekirman yang berasal dari berbagai latar belakang profesi.
“Selamat dan terimakasih kepada semua yang hadir dan para penulis yang memberikan masukannya pada buku ini. Melalui buku ini saya merasa dipotret dan dinilai oleh orang yang selama ini tidak pernah saya duga. Ibaratnya, seorang tukang pangkas atau fotografer, sehebat apapun kemampuannya, ia tidak bisa memangkas ataupun memotret dirinya sendiri. Ia butuh orang lain untuk melakukan tugasnya, agar ia tahu bagaimana ia adanya,” buka Soekirman dalam sambutannya.
Soekirman melanjutkan, orang-orang yang memberikan masukan pada buku ini menurutnya adalah saksi-saksi hidup yang memberikan testimoni.
“Saya teringat kalimat orang bijak bahwa “jika engkau bukan siapa-siapa, maka tulislah sebuah buku, karena jika kelak engkau telah tiada, orang-orang akan tetap mengenangmu beserta hal-hal yang telah engkau lakukan”. Mudah-mudahan hal tersebut tercapai dan sekaligus sedikit banyak memberikan pencerahan kepada bangsa,” jelas Bupati lagi.
Berketepatan dengan Reformasi 22 tahun lalu tepat di tanggal 21 Mei tahun 1998, Soekirman mengajak para hadirin tetap memperingatinya di Kabupaten Sergai walau secara terbatas karena pandemi Covid-19 yang menerpa pada saat ini.
“Namun semangat Reformasi jangan ikut padam. Kita mengingat serta mengenangnya hari ini dengan hal-hal positif, salah satunya lewat gerakan literasi,” jelas Bupati lagi.
Sementara itu, beberapa tokoh yang tulisannya terangkum dalam buku ini memberi beragam komentar.
H. Tengku Erry Nuradi yang menyumbang tulisan berjudul “Soekirman, Mitra Kerja dan Sahabat yang Humble”, bersaksi jika Soekirman tidak saja pernah menjadi mitra kerja, namun juga seorang sahabat yang rendah hati dan menyenangkan.
“Tuhan telah mempertemukan kami dalam satu “kapal” perjuangan yang ikut dalam kontestasi Pilkada di Sergai dan akhirnya berhasil menjadi pemimpin. Menurut saya, ada beberapa faktor kenapa Soekirman bisa menjadi Wakil saya yang tetap memegang teguh amanah sebagaimana tupoksinya, yaitu karena ia memegang teguh falsafah “Tinggikan Seranting”, “Tajam Jangan Melukai”, “Uang Berkaki Delapan”, “Profesi Yang Hilang”, “Nerimo dan Ikhlas” yaitu orang yang penyabar, tidak ambisius dan tidak terlalu ngoyo, serta “Mikul Dhuwur Mendem Jero” atau tidak pernah menjelek-jelekkan saya,” pungkasnya.
Dr. Shafwan Hadi Umry, M.Hum yang merupakan dosen dan sastrawan mengungkapkan rasa terkesannya terhadap sosok Soekirman dalam tulisannya yang berjudul “Suara Lingkungan Dalam Pena Soekirman”.
“Beliau sosok yang peduli akan kelestarian alam menggunakan metode ‘ekologi silaturahmi’. Selaku pegiat LSM lingkungan, Soekirman sangat concern dengan isu lingkungan hidup dan hal itu dibuktikan dengan keaktifannya di WALHI. Dalam beberapa kalimat ia menulis, meskipun orang yang berkiprah di WALHI belum ada yang bergelar master, pernyataan WALHI selalu didengarkan oleh pemerintah,” jelasnya.
Di kesempatan yang sama Pengamat Politik yang juga merupakan dosen, Faisal Riza, S.Ag, MA, lewat tulisannya yang dijuduli ‘Spiritual Akar Rumput : Belajar dari Haji Soekirman’ menyatakan jika Soekirman mendapatkan makna hidup itu lewat upayanya memberikan manfaat kepada masyarakat melalui prinsip Kepemimpinan Maslahat atau kepemimpinan yang bermanfaat bagi orang banyak. “Beliau juga menerapkan prinsip jika konflik kepentingan tidak akan terjadi mana kala jabatan dianggap sebagai amanah dari Allah SWT,” sebutnya lagi.
Aktivitas mahasiswa dan pergerakan sosial, Abdul Firman Kusin, S.Pd, M.Pd, yang juga ikut menyumbangkan tulisannya berjudul “Politik Komunitas Ala Bang Kirman”, menyebut jika Soekirman punya pengaruh luar biasa pada komunitas-komunitas masyarakat yang membuat dirinya pernah dilirik oleh Tengku Erry Nuradi untuk menjadi pasangannya pada Pilkada Sergai periode lalu.
Sesuara dengan Abdul Firman, sesama aktivis Iswan Kaputra, S.Kom, M.Si juga menyampaikan pujian pada sosok Soekirman lewat tulisannya “Bang Kirman, Anak Petani Desa yang Peduli Pertanian Pedesaan”.
“Banyak ilmu yang diajarkan kepada kami terutama tentang mendengarkan dan berbaur dengan masyarakat, serta ilmu pertanian yang hingga sekarang masih selalu saya ingat,” kata aktivis yang bergerak di bidang sosial dan masyarakat sipil ini.
Dalam tulisan berjudul “Soekirman Bupati Lingkungan”, Wahyudi, S.Sos, yang merupakan aktivis masyarakat sipil, mengejewantahkan pribadi Bupati Sergai yang punya jejak peduli lingkungan yang tinggi.
“Kita harus mundur jauh ke belakang agar dapat mencermati beberapa peristiwa penting berkaitan dengan munculnya gerakan-gerakan lingkungan di Indonesia,” sebutnya.
Kalangan jurnalis juga tidak ketinggalan terlibat dalam karya ini. Wartawan majalah Gatra Baringin Lumbangaol, S.Pd mulai kagum terhadap wawasan budaya Bupati Sergai sejak diberikan buku berjudul “Parlombu-lombu” yang ditulis oleh Soekirman sendiri.
“Saya kagum ada orang yang bukan suku Batak namun sangat menguasai tentang Batak. Saat ditanyakan alasannya, Soekirman mengatakan bahwa tidak semua suku yang memiliki kekayaan budaya dan bahasa seperti yang dimiliki masyarakat Batak. Sederet cerita perjalanan Soekirman dalam buku ini pantas kita jadikan pelajaran untuk mencintai dan menghargai budaya Batak,” jelasnya.
Terakhir, Taslim Moeis, S.Psi, MBA, CBA, yang merupakan profesional di bidang analis bakat dan perilaku menerangkan jika Soekirman memiliki kecerdasan yang majemuk (multiple intelegence). Kecakapan ini yang membuat ia selalu berfikir kritis dan bersikap dengan bijak. “Dalam melihat berbagai masalah, ia juga sangat teliti dengan melakukan analisis, sehingga resolusinya dapat dilakukan secara bijak dengan mempertimbangkan berbagai aspek terkait,” jelasnya.
Sementara itu Sekjen Forum Masyarakat Literasi Indonesia (Formalindo), Agus Marwan, yang didapuk sebagai editor buku ini menyampaikan ada 14 tulisan yang memotret sosok Soekirman dan dirangkum dalam karya ini.
“Deretan sahabat Soekirman yang menyumbangkan tulisan selain saya antara lain, Erix Hutasoit (pekerja profesional bidang komunikasi), Dr. Shafwan Hadi Umry, M.Hum (dosen dan sastrawan), Faisal Riza, S.Ag, MA (Pengamat Politik/Dosen), Abdul Firman Kusin, S.Pd, M.Pd (aktivitas mahasiswa dan pergerakan sosial), Iswan Kaputra, S.Kom, M.Si (aktivis sosial dan masyarakat sipil), Wahyudi, S.Sos (aktivis masyarakat sipil), Baringin Lumbangaol, S.Pd (wartawan GATRA), Dr. Purwadi, SS, M.Hum (Dosen Seni UNJ) serta Taslim Moeis, S.Psi, MBA, CBA (analis bakat dan perilaku),” jelasnya.(Mc/Sergai/Nurul/Ardi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *