Jadi Narasumber di KRPPW, Bupati Sergai Beri Paparan Terkait Perikanan dan Konservasi Mangrove

Sei Rampah,

Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir. H. Soekirman didapuk sebagai pembicara dalam Web-Seminar (Webinar) yang diselenggarakan oleh Kemah Riset Pengabdian Perikanan Wilayah, Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia Wilayah I (KRPPW HIMAPIKANI) Wilayah I Universitas Dharma Wangsa, di Posko Gugus Tugas, Rumah Dinas Bupati Sergai, Sei Rampah, Selasa (14/07/2020).

Webinar ini sendiri bertemakan “Ekosistem mangrove sebagai sumber daya strategis untuk ekowisata, edukasi dan konservasi yang berkelanjutan”. Dimoderatori oleh Dr. Emmy Syafitri, S.Pi, M.Si dan Bambang H. Siswoyo, S.Pi, M.Si, Soekirman menjadi pembicara bersama dengan 3 Narasumber lainnya yaitu Prof. Dian A., M.Pd, M.A, M.Sc, Ph.D yang merupakan Kepala LLDIKTI Wilayah I Sumatera, Rektor Universitas Dharmawangsa Dr. Kusbianto, SH, M.Hum, dan Aktivis Mangrove, Wibi Nugraha.

Dalam paparannya Bupati menyebut Kabupaten Sergai merupakan salah satu daerah yang menjadi sentra produksi perikanan baik perikanan air tawar maupun perikanan air laut yang bersumber dari hasil tangkapan maupun perikanan budidaya. “Akan tetapi menurut hasil laporan dari penelitian Himpamela (Himpunan Masyarakat Pemancing dan Penjala) di tahun 1970 terdapat 23 jenis ikan, namun di tahun 2006, tersisa tinggal 7 jenis saja. Hal tersebut bisa jadi karena beberapa faktor seperti pola menangkap ikan yang tidak pada tempatnya, entah itu menyetrum, meracun atau akibat pencemaran,” sebutnya.

Soekirman berharap Kemah Riset dapat digelar di Kabupaten Sergai dan dilaksanakan secara tematik. Ia menyebut, apa yang paling penting adalah melahirkan suatu rencana bersama semisal mengembalikan spesies ikan yang telah terancam hilang ataupun mengadakan diskusi yang mengangkat isu menarik, misalnya saja tema perihal budidaya ikan gabus di wilayah pesisir sebab di wilayah pesisir masih banyak rawa yang menjadi lokasi pemancingan.

“Pada saat ini jumlah budidaya perikanan di kolam juga semakin banyak seperti budidaya ikan patin, ikan lele, ikan nila, gurami dan ikan gabus. Terutama ikan gabus yang saat ini sangat dicari karena berbagai khasiatnya, misalnya saja bagi orang yang baru selesai operasi. Hal-hal yang alami seperti ini perlu diterima oleh ilmuwan kemudian direplikasi dan hasil dari riset tersebut akan didapat data tandingan dari apa yang didapati oleh Himpamela pada beberapa waktu yang lalu. Kami menyatakan siap menyambut kerjasama dengan para pejuang riset, akademisi serta pegiat lingkungan dan perikanan,” katanya.

Kemudian Bupati melanjutkan, di Sergai terdapat wilayah hutan yang beralih menjadi Areal Penggunaan Lain pasca pergantian SK 44 menjadi SK 579 yaitu kira-kira seluas lebih kurang 20.000 ha yang di antaranya terdapat di daerah pesisir hutan mangrove seperti Kecamatan Pantai Cermin, Teluk Mengkudu dan Tanjung Beringin.

“Karena pasirnya putih dan indah maka terjadi kompetisi antara kepentingan perikanan dan pelestarian hutan mangrove dengan bidang pariwisata. Itu sebabnya kami mencoba mencari jalan keluar dengan program Eco Marine Tourism. Di beberapa wilayah masih banyak terdapat hutan mangrove yang terjaga karena terjadi sendimentasi lumpur yang memudahkan tanaman mangrove tersebut berkembang dengan baik. Kabupaten Sergai sendiri sudah memiliki aturan dalam hal pelestarian kawasan perairan dalam bentuk Perda Nomor 26 Tahun 2006 tentang Kawasan ECO Marine Tourism yaitu kawasan wisata bahari yang berwawasan ekologis. Seperti Pulau Berhala yang kami miliki, selain indah dan juga jadi tempat penyu berkembang biak dengan baik, di kawasan tersebut semua kegiatan harus berkaidah ekologis,” bebernya.

Soekirman mengungkapkan Sergai merupakan salah satu kawasan konservasi mangrove yang bisa dilihat di Desa Nagalawan Kecamatan Perbaungan. “Melalui kawasan wisata mangrove Sungai Nipah dan Hutan Mangrove Desa Kota Pari ini, Sergai dapat menjadi salah satu kawasan konservasi yang masih baik bagi ekosistem muara yang letaknya di muara Sungai Ular,” pungkasnya.

Terakhir, Bupati mengucap apresiasi dan terima kasih atas terselenggaranya Webinar bertema ekosistem mangrove ini. “Diharapkan pertemuan Webinar hari ini dapat bermanfaat dan membuat masyarakat ikut serta dalam melestarikan ekosistem mangrove sebagai sumber daya strategis untuk Eko Wisata edukasi dan rekreasi bagi masyarakat,” ucap Soekirman.

Selain itu para Narasumber lain yang juga ikut serta dalam webinar ini juga menyampaikan paparannya antara lain perihal Pengelolaan Sistem Mangrove Berkelanjutan, Peran Pendidikan Tinggi Sebagai Pengembangan Mahasiswa Untuk Edukasi dan Konservasi Ekosistem Mangrove, Ekosistem Mangrove Sebagai Sarana Eko Wisata Edukasi Bagi Masyarakat, serta Bagaimana Meningkatkan Kepedulian Masyarakat Pada Ekologi Mangrove. MC Sergai/Vivi/Indan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *