Pemkab Sergai Sosialisasikan Istilah Baru Penanganan Covid-19

Sei Rampah,

Mendindaklanjuti keluarnya Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease (Covid-19), Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Pemkab Sergai) melalui Dinas Kesehatan melaksanakan sosialisasi penggunaan istilah baru dalam penanganan Kasus Covid-19 di Sergai yang dihadiri oleh puluhan Operator Sistem Info Covid-19 disetiap Puskesmas se-Sergai, bertempat di Aula Dinas Kesehatan Sergai di Sei Rampah, Kamis (16/07/2020).

Dalam sambutannya, Kadis Kesehatan Sergai dr. Bulan Simanungkalit, M.Kes menyebut penggunaan istilah baru ini ditujukan agar proses penggolongan menjadi lebih spesifik dibanding pengelompokan sebelumnya.

“ Sesuai dengan KMK nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19, perubahan dilakukan terhadap definisi operasional. Pertama, istilah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) digantikan dengan istilah “Kasus Suspek”. Kasus Suspek ditetapkan dengan kriteria pertama, orang dengan ISPA (infeksi saluran pernafasan) dan pada hari 14 terakhir memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara atau wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal. Kedua, orang dengan salah satu gejala atau tanda ISPA dan 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probable Covid 19 dan terakhir orang dengan ISPA berat atau Pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan,” jelasnya.

dr. Bulan melanjutkan, istilah baru yang kedua adalah “kasus probabel”. “Istilah ini merujuk pada Kasus Suspek dengan ISPA berat atau meninggal dunia dengan gambaran klinis yang meyakinkan Covid-19 dan belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR,” katanya.

Sedangkan istilah berikutnya, kata Kadis Kesehatan, adalah “Kasus Konfirmasi” yaitu seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus Covid-19 yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium RT-PCR yang terbagi ke dalam dua golongan, kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) dan kasus konfirmasi tanpa gejala atau asimptomatik.

Lalu ia menyebut ada istilah baru “Kontak Erat” yang merujuk pada orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi Covid-19.

“Riwayat kontak yang dimaksud antara lain kontak tatap muka atau berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi dalam radius  1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih. Kedua, sentuhan fisik langsung dengan kasus probabel atau konfirmasi seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan sebagainya. Ketiga, orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probabel atau konfirmasi tanpa menggunakan APD yang sesuai standar. Keempat, situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian resiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyilidikan epidimologi setempat pada kasus probabel atau konfirmasi yang bergejala atau simtomatik untuk menemukan kontak erat. Periode kontak dihitung dari dua hari sebelum kasus timbul gejala hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala. Pada kasus konfirmasi yang tidak bergejala atau asimptomatik, untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari dua hari sebelum dan 14 hari setelah tanggal pengambilan spesimen kasus konfirmasi,” jelasnya lagi

dr. Bulan juga menjelaskan beberapa istilah yang akan dipakai berdasarkan status individu yaitu “pelaku perjalanan”, “discard”, “selesai isolasi”, “kematian” dan “sembuh”.

“Pelaku perjalanan adalah seseorang yang melakukan perjalanan dari dalam negeri atau domestik pada 14 hari terakhir. Discard adalah seseorang memenuhi dua kriteria yaitu seseorang dengan status Kasus Suspek dengan hasil pemeriksaaan RT PCR 2 kali berturut-turut dengan selang waktu lebih dari 24 jam dan seseorang dengan status Kontak Erat yang telah menyelesaikan masa karantina 14 hari. Sedangkan status selesai isolasi” adalah apabila memenuhi kriteria yaitu pertama, kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik ) yang tidak dilakukan pemeriksaan follow-up RT PCR dengan ditambah 10 hari  isolasi mandiri sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi. Kedua, kasus probabel atau kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dihitung 10 hari sejak tanggal muncul gejala dengan ditambah 3 hari setelah tidak menunjukkan gejala demam dan gangguan pernafasan. Ketiga, probabel atau kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang mendapatkan hasil pemeriksaan follow up RT-PCR 1 kali negatif, dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan,” jelas dr. Bulan secara rinci.

Kemudian, Ia menambahkan, status “kematian” adalah kasus konfirmasi/probable Covid-19 yang meninggal dan terakhir status “sembuh” “Sebelumnya, pasien Covid-19 bisa dikatakan sembuh dari penyakit itu apabila mendapatkan dua kali hasil negatif dari tes Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Kini, seorang pasien tidak perlu mendapatkan dua kali hasil negatif untuk bisa dikatakan sembuh dari Covid-19,” pungkasnya.

Sementara itu di kesempatan yang sama, Kadis Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sergai sekaligus Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Drs. H. Akmal, AP, M.Si, menyebut akan selalu berkoordinasi dengan Dinkes untuk menyebarluaskan informasi terkait proses penanganan pandemi di Sergai.

“ Sebagai garda terdepan dalam diseminasi informasi yang valid dan dapat menjadi rujukan utama masyarakat dalam mengetahui perkembangan penanganan Covid-19 di Sergai, Dinas Kominfo tentu akan selalu mengikuti dan memperbaharui konten atau isi informasi yang akan dipublikasikan. Untuk itu kami akan tetap menjaga koordinasi yang erat, terutama dengan Dinkes Sergai yang menjadi lini utama dalam penangangan pandemi ini,” sebutnya.(Mc/Sergai/Nurul/Ardi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *