Desa Bengkel, Sentra Produksi Jajanan Khas Sergai

Kabupaten Serdang Bedagai merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Induk Deli Serdang sesuai dengan UU RI Nomor 36 Tahun 2003 pada tanggal 18 Desember 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdang Bedagai.

Lahirnya UU tentang pembentukan Kabupaten Serdang Bedagai sebagai kabupaten pemekaran merujuk pada usulan yang disampaikan melalui Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 18/K/2002 tanggal 21 Agustus 2002 tentang Persetujuan Pemekaran Kabupaten Deli Serdang.

Beribu kota Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai pada awal pemekaran luasnya mencapai 1.900,22 kilometer persegi, terdiri dari 11 kecamatan kemudian dimekarkan lagi menjadi 17 kecamatan. Secara geografis Kabupaten Serdang Bedagai terletak pada posisi 2 derjat 57” lintang utara, 3 derjat 16 “lintang selatan, 98 derjat 33” -90 derjat 27” bujur timur dengan ketinggian berkisar 0- 500 meter di atas permukaan laut.

Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Batu Bara dan Simalungun, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Simalungun dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang.

Di usianya yang masih remaja, Kabupaten Serdang Bedagai melalui visi dan misinya terus berpacu untuk meningkatkan pembangunan disegala bidang, diantaranya; infrastruktur, pertanian dan ketahanan pangan. Beragam inovasi pembangunan juga gencar ditingkatkan demi mewujudkan visi Kabupaten Serdang Bedagai yang Maju Terus; Mandiri, Sejahtera dan Religius, disusun program Sapta Dambaan (SAPDA) yang berisi; Sekolah Mantab (Sekolah Mandiri, Terampil, Asri dan Berkualitas); Masyarakat Sehat dan Religius; Pertanian Mandiri dan Berkelanjutan; Infrastruktur Terintegrasi; Ekonomi Berdaya Saing; Wisata Maju Terus; dan Birokrasi Dambaan. Perlahan nanum pasti, Sapta Dambaan akan diwujudkan demi kesejahteraan masyarakat.

Dengan jumlah penduduk sekitar 657.490 jiwa (data BPS tahun 2020) masyarakat Sergai mempunyai latar belakang pekerjaan yang beraneka ragam seperti; petani, nelayan, pedagang, karyawan, ASN, keprofesian dan lainnya. Salah satu pekerjaan yang dilakoni oleh masyarakat Desa Bengkel adalah memproduksi jajanan yang berasal dari potensi Kabupaten Sergai.

Jajanan yang populer di Desa Bengkel Kecamatan Perbaungan adalah ceker ayam dan aneka jenis keripik yang juga bisa dijadikan oleh-oleh khas Sergai. Jajanan ini juga banyak ditemui di kios-kios dodol Bengkel maupun banyak dijajakan langsung oleh pedagang keliling.

 

Salah satu lokasi produksi jajanan ceker ayam dan aneka jenis keripik ada di Desa Deli Muda Hulu Kecamatan Perbaungan. Di tempat ini juga selain memproduksi makanan, juga langsung dijajakan kepada masyarakat. Terdapat beberapa lokasi yang memproduksi jajanan ini. Bagi masyarakat yang melintas di Desa Deli Muda Hulu tentu tahu lokasi jajanan khas Sergai ini.

Penganan ceker ayam yang nikmat dan gurih ini terbuat dari ubi (ubi kayu dan ubi jalar). Cara membuatnya pun terbilang mudah. Bahan dasar ubi yang diparut kemudian digoreng dan diberi gula merah. Setelah ubi goreng yang diberi gula itu empuk lalu dicetak menggunakan mangkuk dan setelah kering baru dapat dikemas dalam plastik yang kemudian dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

Selain memproduksi ceker ayam, di lokasi tersebut juga memproduksi banyak jajanan lainnya seperti kembang Loyang, keripik ubi pedas dan asin, kue kipas, telur gabus, kacang umpet dan jenis jajanan lainnya yang sangat enak dan tentu harganya yang sangat terjangkau.

Paenah (55) warga Desa Bengkel menyebut jika usaha yang ditekuni oleh masyarakat yang memproduksi jajanan khas Sergai terbilang lumayan. Namun, tak seperti dulu jumlah produksinya.

“ Terbilang lumayan lah, meski tak sebanyak dulu. Kalua dulu produksinya sangat banyak karena akses menjajakan barang dagangan tak terbatas. Namun kini, karena ada jalan tol jadi agak berkurang pembeli yang lewat sini. Kemudian pedagang tak seperti dulu bisa berjualan di kereta api,” terang Paenbah yang merupakan pedagang gorengan di Pasar Bengkel.

Namun masyarakat (UMKM) yang memproduksi jajanan ini tak patah semangat. Selain menjajakan dagangan di lokasi produksi, mereka juga bmendistribusikan lewat pedagang keliling serta menjual secara online melalui media sosial. Kita berharap perekonomian masyarakat semakin meningkat lewat pelaku usaha seperti ini. (Berbagai Sumber / ISL).

2.216 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *