Nilai Luhur Tradisi “Asokan” Etnis Banjar Sergai

Pola kehidupan masyarakat desa yang dari dahulu hingga saat ini masih turun temurun dan dilestarikan salah satunya terdapat di Desa Pematang Ganjang, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). Desa Pematang Ganjang merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sei Rampah, yang terdiri dari delapan dusun. Jumlah penduduk yang ada di desa tersebut sebesar 3.651 jiwa. Masyarakat yang berada di Desa Pematang Ganjang adalah masyarakat multikultural, terdapat beberapa etnis di desa tersebut. Mayoritas penduduk di Desa Pematang Ganjang beretnis Banjar, namun terdapat juga etnis Jawa, Melayu, Batak Mandailing dan sebagainya. Serta mata pencaharian masyarakat mayoritas bertani (Kantor Kepala Desa Pematang Ganjang).

            Kehidupan masyarakat Desa Pematang Ganjang sangat intim antara individu yang satu dengan individu lainnya bermacam-macam tradisi serta kegiatan sosial dilakukan secara bersama-sama. Salah satu kegiatan sosial yang hingga saat ini masih dilakukan masyarakat adalah kegiatan sosial yang dikenal dengan Asokan. Asokan adalah wujud kerjasama antara masyarakat satu dengan yang lainnya.

            Asokan merupakan kesadaran sosial yang dilakukan masyarakat dengan memberikan bantuan berupa barang belanjaan, ataupun uang yang diberikan ketika ada diantara mereka yang akan mengadakan suatu pesta dan dilakukan secara bergantian. Asokan dilakukan dengan menekankan pada kesadaran sosial masyarakat yang ada di desa tersebut serta bertujuan untuk menjaga hubungan persaudaraan. Asokan dilakukan ketika ada diantara mereka yang akan mengadakan suatu pesta, baik pesta pernikahan, pesta khitanan, dan lain sebagainya. Asokan merupakan suatu kebiasaan yang dibawa oleh masyarakat Suku Jawa di Desa Pematang Ganjang, maka secara otomatis suku lain yang berada di desa tersebut mengikuti dan menjalankan kegiatan Asokan.

            Tradisi Asokan di masyarakat dimaksudkan untuk membantu meringankan beban masyarakat yang ada hajatan. Bantuan ini didapat dari tetangga, kerabat, kerabat dan masyarakat lain yang terlibat dalam hajatan tersebut. Bantuan yang diberikan dapat berupa material (uang dan barang) dan non material (tenaga dan jasa). Bantuan yang diberikan juga tidak gratis, mereka melakukannya karena adanya timbal balik yang diinginkan, tentunya hal ini disesuaikan dengan kebutuhan dan latar belakang masing-masing individu yang terlibat. Timbal balik dianggap sebagai strategi tidak hanya untuk menjalin kerjasama tetapi juga untuk melestarikan tradisi sesuai dengan perkembangan zaman.

            Hal ini dilakukan karena menurut masyarakat yang ada di Desa Pematang Ganjang secara keseluruhan melihat bahwa kegiatan Asokan dapat membantu masyarakat ketika mengadakan suatu pesta dan menjadikan hubungan persaudaraan serta menumbuhkan suatu wujud kepedulian masyarakat begitu tinggi dengan sesamanya. Dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti ditemukan bahwa Asokan yang dilakukan masyarakat di Desa Pematang Ganjang terlihat dari rasa bekerja sama dan saling percaya yang terjadi diantara orang yang mengasok dan orang yang diasok.

            Adapun bentuk kepercayaan diartikan sebagai bentuk saling percaya antar masyarakat melalui interaksi sosial dalam melakukan Asokan yang didasari dengan adanya ikatan persaudaraan, saling memberi, dan atas dasar kesepakatan bersama sehingga saling menguntungkan baik dalam hal moril maupun materil.

            Dengan hubungan tersebut membentuk sebuah ikatan sosial di dalam masyarakat yang memungkinkan masyarakat saling bersatu dengan masyarakat yang lain. Selain itu tradisi asokan memiliki nilai sosial dan kepercayaan yang dibangun dalam menjalankan suatu kegiatan secara bersama-sama. Karena nilai merupakan suatu ide yang telah turun temurun dan dipatuhi serta dianggap penting untuk dilaksanakan oleh kelompok masyarakat….(Dikutip dari berbagai sumber/ISL).

 

1.230 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *