Kampung Budaya, Wadah Pelestarian Adat dan Budaya bagi Masyarakat Sergai

Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten induk yaitu Kabupaten Deli Serdang. Tak hanya itu, Kabupaten yang Sergai ini juga dikenal sebagai kabupaten yang memiliki masyarakat pluralistik.

Pasalnya Kabupaten Sergai memiliki komponen masyarakat dari berbagai agama, ras, suku dan golongan. Sebagai kabupaten yang terdiri dari multi etnis dan multikultural, dapat dipastikan bahwa banyak kebudayaan yang berkembang di dalam masyarakat di Tanah Bertuah Negeri Beradat.

Seperti kita ketahui bahwa kebudayaan yang hidup dan berkembang di masyarakat Sergai merupakan aset yang memperkaya khasanah kebudayaan di dalam kehidupan masyarakat Sergai. Kabupaten Sergai yang multi etnis dan multikultural tentunya menyimpan banyak tradisi dan kebudayaan, maupun kesenian tradisional yang terus tumbuh dan hidup di dalam masyarakatnya.

Beragam tradisi dan kebudayaan telah dijalankan di Kabupaten Sergai. Salah satunya upacara jamu laut, yang merupakan upacara tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat Melayu Serdang. Upacara jamu laut telah menjadi tradisi yang dilakukan sejak zaman pra Islam. Awalnya, upacara jamu laut bertujuan untuk memberikan persembahan kepada penunggu laut atau yang biasa disebut dengan istilah ‘jimbalang’ atau ‘mambang laut.

Kemudian beberapa kampung telah diresmikan seperti Kampung Budaya Melayu di Tanjung Beringin, Kampung Budaya Jawa di Kampung Ibus Sei Rampah, Kampung Budaya Banjar di Desa Lubuk Cemara Kecamatan Perbaungan.

Terakhir, telah diresmikan Kampung Budaya Batak Toba yang diresmikan oleh Bupati Sergai H. Darma Wijaya didampingi Wakil Bupati H. Adlin Tambunan di Desa Huta Nauli, Kecamatan Dolok Masihul, pada 13 September 2023 lalu.

Dikesempatan itu Bupati Darma Wijaya menegaskan jika Kampung Budaya Batak Toba di Desa Huta Nauli bukanlah sekadar simbol atau dekorasi semata, tetapi sebuah wadah yang akan menjadi cerminan kekayaan budaya, tradisi, dan identitas masyarakat Batak Toba di Sergai.

“ Kampung budaya ini dapat menjadi destinasi budaya yang membanggakan dan menarik perhatian wisatawan. Kampung Budaya Batak Toba di Desa Huta Nauli melengkapi daftar kampung budaya yang telah lebih dulu diresmikan,” kata Bupati kala itu.

Dikatakan Bupati jika tujuan utama pendirian kampung budaya ini adalah untuk melestarikan adat, tradisi, dan budaya yang telah tergerus oleh perkembangan zaman. Menurutnya, seluruh pihak tidak boleh membiarkan warisan budaya hilang begitu saja. Oleh karena itu, dirinya mengajak seluruh masyarakat, terutama pemuda dan generasi muda, untuk berperan aktif dalam melestarikan adat budaya kita.

Pelestarian Kampung Budaya ini dapat dilihat dari dilestarikannya beragam kegiatan yang berhubungan dengan budaya dan adat istiadat. Budaya Melayu masih melestarikan kegiatan jamu laut dan pakaian adatnya, Budaya Banjar melestarikan kegiatan kenduri  dan Budaya Aruh Banjar yang merupakan  kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi Aruh Banjar ini telah berjalan turun temurun dan dilaksanakan secara bergilir dimaksudkan untuk membesarkan syiar Islam dan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan Budaya Jawa masih melestarikan ragam kesenian seperti jaran kepang, ludruk, reog, pakaian adat dan lainnya. Sedangkan Kampung Budaya Batak Toba pelestarian yang dijalankan seperti melestarikan pakaian adat, pelaksanaan upacara adat, pertunjukan tari tradisional, makanan khas, dan lainnya.

Bupati Darma Wijaya dan Wabup Adlin Tambunan dalam beberapa kesempatan kerap mengajak semua pihak untuk bersama-sama mendukung dan mempromosikan seluruh Kampung Budaya yang ada di Kabupaten Sergai agar menjadi destinasi wisata budaya yang mampu berkontribusi besar pada perkembangan keberagaman budaya di Tanah Bertuah Negeri Beradat.

Di Kabupaten Sergai juga terdapat Kampung Bali yang ada di Desa Pegajahan Kecamatan Pegajahan. Di sana kita bisa merasakan suasana kehidupan masyarakat Hindu Bali. Di Kampung Bali ini bermukim komunitas etnis Bali yang masih taat akan tradisi. Di Kampung Bali berdiri sebuah Pura yang diberi nama Pura Panataran Dharmaraksaka yang berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat Hindu Bali di desa tersebut.

Pura Panataran Dharmaraksaka ini ramai dikunjungi setidaknya dua kali dalam sebulan bagi umat Hindu Bali untuk beribadah pada waktu Purnama dan Tilem (Bulan Gelap).

Keunikan Kampung Bali yang ada di Desa Pegajahan ini merupakan daya tarik bagi wisatawan yang datang untuk mengunjungi tempat ini karena Kampung Bali ini dapat dikatakan sebagai tempat wisata budaya yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. (Berbagai Sumber/Ini Sergai Loh).

590 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *