Soekirman Harap Ada Ekosistem dan Galeri Budaya di Setiap Daerah

Medan, 

Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir H Soekirman didaulat sebagai Narasumber Dialog Sanggar Seni Rupa ” Simpaian Seniman Senirupa Indonesia ” (Simpassri) di Jl Teratai No. 1 Medan, Sabtu (22/2/2020)

Hadir juga dalam kesempatan tersebut Plt. Walikota Medan Ir. H. Akhyar Nasution, Pengurus Simpassri Drs. Fuad Erdansyah, M.Sn, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Provsu dr. Ria Nofida Telaumbanua, M.Kes, Kadis Kebudayaan Kota Medan Drs. OK. Zulfi, M.Si, Dosen-Peneliti Seni Rupa FBS Unimed DR. Zulkifli, M.Sn, Sekretaris Dinas Pendidikan Batara Rival Harahap, M.Si, Sekretaris Dinas Pora Parbud Sergai, Kabid Kebudayaan Dinas Pora Parbud Sergai Seraca Agung Nugroho, para perupa dan pelaku seni se-Sumatera Utara serta para undangan.

Saat menyampaikan paparannya, Bupati Sergai Ir H Soekirman  mengemukakan  rasa keprihatinan dengan pola masyarakat sekarang yang memiliki budaya membuang sampah ke sungai. Hal tersebut bukan saja terjadi di Kota Medan, namun juga di Sergai. ” Sampah dimasukkan plastik, kemudian dengan mengendarai sepeda motor membuang sampah ke sungai meski di rumahnya terdapat lobang sampah,” kata Bupati.

Bupati menyebut, semestinya kita menyadari budaya yang telah 20 tahun belakangan ini berubah serta menunjukkan hal yang menuju kehancuran. Hal ini harus terangkat dan digoreskan di atas kanvas hal-hal yang fenomenal seperti hal tersebut.

Kemudian catatan selanjutnya dari Bupati adalah membahas tentang Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), bahwa menurut kuadran Robert T Kiyosaki seni rupa adalah menciptakan kerja sendiri yang sangat dekat dengan ekonomi kreatif.

Oleh karenanya, Bupati berharap ada galeri disebuah kota yang memuat lukisan-lukisan seniman yang bisa dilihat dan dibawa pulang lukisan untuk dipajang atau dikoleksi bagi pecinta seni. Selain itu, adanya ekosistem seni rupa Medan agar ada harapan hidup yang lebih baik, saya khawatir jangan sampai nasibnya seperti penjual madu. Siapa yang tidak tahu manfaat mahalnya madu, tapi ketika dijajakan hingga kerumah-rumah lengkap dengan sarang madu dan bahkan lebahnya, justru orang malah tidak percaya atas keaslian madu tersebut. Akan tetapi setelah dikemas di supermarket dan toko-toko, orang justru lebih yakin madu itu asli padahal belum tentu, demikian perumpamaan yang disampaikan Bupati.

” Kita semua yang hadir disini luar biasa kreasinya, untuk itu saya tidak ingin ketika karya seni saat dijajakan, nasibnya akan serupa dengan cerita penjual madu di atas,” ujarnya.

Selanjutnya, Bupati memberikan catatan tentang disterupsi atau perubahan berbagai sektor akibat digitalisasi, bahwa dengan perkembangan teknologi tersebut dikhawatirkan akan dapat mengecilkan bahkan menghilangkan peran beberapa profesi. Sepertinya peran kreator dan perupa sepertinya susah untuk dihilangkan.

” contohnya jika banyak terdapat masakan siap saji, peran seorang chef akan selalu dibutuhkan. Semua tergantung pada bagaimana kita menyajikan hasil karya kita mengikuti selera pasar. Seperti cerita Walikota Ambon kepada saya tentang dahulu calon-calon mertua begitu tidak setuju anaknya menikah dengan musisi. Namun setelah Kota Ambon dinobatkan sebagai Kota Musik, hampir semua orang tua ingin anaknya menikah dengan musisi. Hal demikian saya harapkan juga terjadi di Kota Medan ini, dengan perupa dan seniman akan dicari dan dijadikan idaman para calon mertua,” kisah Bupati yang disambut dengan aplaus dari hadirin.

Bupati Soekirman juga mengapresiasi dengan hasil karya para perupa seperti hari ini dengan berbagai tehknik, media, ide-ide yang unik namun sangat luar biasa dan dapat membuat hasil karya tersebut bernilai tinggi. Seperti lukisan dari media bubuk teh, pasir dan lain sebagainya.

” Mungkin dari dialog budaya hari ini saya berkeyakinan suatu hari akan semakin luas dan banyak galeri seni yang ada di Medan ini sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Pemerintah daerah juga harus menumbuhkan ekosistem seni, seperti halnya Kampung Budaya yang kami terapkan di Sergai,” harapnya.

Jika nanti para perupa ini berkolaborasi dengan masyarakat Kampung Budaya sehingga daerah tersebut akan sangat menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan. Semoga hal-hal yang lokal tentang Kota Medan, melalui tangan-tangan perupa dapat diglobalkan, sebaliknya hal-hal yang global bisa dilokalkan agar dapat bersaing dalam era globalisasi saat ini, ujar Bupati Soekirman menutup paparannya. MC Sergai Vivi

291 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *