Narasumber DHS, Bupati Sergai : Budaya Mampu Mengkatrol Wisatawan 

Medan,
Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir H Soekirman menjadi Narasumber pada acara Workshop Narasi Deli Heritage Society (DHS) bertempat di Aula Pusat Pelatihan Kelapa Sawit (PPKS) Kota Medan, Minggu (23/2/2020).
Dalam kesempatan tersebut hadir juga, Plt. Wali Kota Medan Ir. H. Akhyar Nasution, Kadis Kominfo Sergai Drs H Akmal, AP, M.Si, Kadis Poraparbud Sudarno, S.Sos, Kadis Pertanian Radianto Panjis,  Direksi PTPN 2,  Direksi PTPN 3, Direksi PTPN 4, General Manager PT.  Socfindo, Kepala Balai Aceh, Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit serta undangan lainnya.
Panitia penyelenggara Sri Hartini Menyampaikan bahwa kegiatan ini digagas oleh bapak Dr Ir Muhammad Abdul Gani M.Si yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan para pakar budayawan pemerhati sejarah, praktisi dan peminat kebudayaan.
Deli Heritage Society (DHS) merupakan sebuah jaringan pakar praktisi dan peminat warisan budaya terkait dengan konteks perkebunan tembakau Deli dan dampaknya pada sejarah dan budaya di Sumut.
Sejarah dan budaya atau benda-benda yang terkait langsung ataupun tidak langsung dengan perkebunan di Sumut  yaitu tanah dan masyarakat.
” Dalam kesempatan ini kita akan mendengarkan Keynote Speaker dari Bupati Sergai yang belum lama ini telah mendapatkan penghargaan kebudayaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat” ungkap Sri Hartini mempersilahkan Bupati Soekirman menyampaikan paparannya.
” Kegiatan ini sangat penting sekali sebab, Deli Heritage Society merupakan budaya, dan budaya merupakan tanah dimana sosial politik dan ekonomi itu tumbuh. Saya sangat meyakini bahwa pendekatan melalui budaya itu merupakan pendekatan yang mencari kesamaan,” kata Bupati Soekirman mengawali paparannya dihadapan para undangan.
Lebih lanjut disampaikan Soekirman bahwa Sumatera Utara (Sumut)  pastilah Tanah Deli, dan Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) memiliki luas wilayah lebih kurang 198.000 Ha. Dari luas tersebut, 100.000 Ha adalah perkebunan yang terdiri dari 35 perusahaan atau perkebunan.
Dalam kesempatan ini, yang terpenting  adalah pertemuan kita, sebab dengan pertemuan kita akan dapat meracik, meramu, bahkan juga dapat melakukan bersama apa yang dapat kita kerjakan untuk Sumut khususnya tanah perkebunan, terang Bupati.
Di Kabupaten Sergai, lanjutnya lagi,  ada beragam suku, salah satunya adalah suku Jawa yang dulu dikenal dengan Putra Jawa kelahiran Sumatera (Pujakesuma) sebelumnya dikenal Jawa Deli “Jadel ” bahkan juga disebut dengan Jawa Kontrak ” Jakon”  jika dinarasikan sejarah hadirnya suku Jawa di Sumatera memiliki tahap, ada yang datang di tahun 1800-an sebelum adanya transmigrasi, hal ini merupakan sejarah yang sangat pantas untuk dinarasikan.
” Jika sejarah-sejarah yang ada di perkebunan kelapa sawit ditulis dan dijadikan tempat atau objek wisata maka perkebunan kelapa sawit akan terkatrol, dan disamping itu juga akan menarik minat wisatawan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah,” katanya.
Bupati mencontohkan, seperti kata lain orang-orang atau saudara-saudara dari para petinggi perkebunan yang telah meninggal dunia akan datang mengunjungi tempat-tempat bersejarah  atau makam para keluarga semasa tinggal dan bertugas di Indonesia.
Secara rinci Soekirman menyebut, Kabupaten Sergai Tanah Bertuah Negeri Beradat masih melakukan terobosan yang dinamakan dengan ” Kampung Budaya “.  Ada Kampung Budaya Jawa,  Kampung Budaya Melayu,  Kampung Budaya Bali, Kampung Budaya Batak dan ada  juga Kampung Budaya Banjar yang semuanya itu memiliki  kaitan  dengan perkebunan karena orang-orang itu jika ditanya, kebanyakan mereka bercerita bahwa kakek atau orangtua mereka dulunya pernah bekerja di perkebunan di sekitar Sergai.
Selain itu, katanya lagi, terdapat juga siaran radio di Sergai yang masih selalu melakukan inovasi literasi dengan memberikan siaran-siaran bahasa daerah. ” Sejarah perkebunan di Sergai  telah kami tuliskan atau kami ungkapkan ke dalam sebuah buku yang berjudul Onderneming Van Sergai, meskipun sejarah yang ada adalah sejarah mistis terkait tentang perkebunan. Onderneming Van Sergai ditulis karena melihat betapa berminatnya masyarakat khususnya Sergai membaca hal-hal mistis atau hal-hal sejarah masa lalu dari orang-orang terdahulu kita,” ungkap Soekirman.
Bupati berpendapat, dengan menuliskan beberapa hal tentang mistis yang ada di perkebunan-perkebunan di Sergai, kami memiliki tujuan untuk menarik wisatawan lokal maupun internasional untuk datang ke Tanah Bertuah Negeri Beradat sehingga berdampak langsung terhadap perekonomian masyarajat seperti warung-warung kopi tempat makan menjadi ramai dan ekonomi berputar lebih baik lagi, ujarnya.
Sementara terkait dengan sumbangan dari perkebunan di Sumut khususnya di Indonesia terlihat sangat jelas salah satunya sumbangan atlet-atlet nasional. ” Kebanyakan berasal dari anak-anak perkebunan seperti atlet sepak bola  yang ada di Sumut merupakan anak-anak yang berasal dari orang tua yang bekerja di perkebunan, atlet tinju, tak lupa juga balap atau reli yang diselenggarakan di perkebunan di Sumut itu semua merupakan sumbangan dari perkebunan yang sangat pantas atau sangat cocok untuk dinarasikan, betapa sumbangan ini sangat luar biasa,”katanya penuh bangga.
Bupati Soekirman berharap agar wisatawan yang datang ke Sumut tidak hanya mengunjungi Danau Toba maupun Berastagi, akan tetapi jika ingin melihat dan merasakan budaya datanglah ke perkebunan-perkebunan yang ada di Provinsi Sumut karena disana sangat banyak berlian atau intan tentang budaya-budaya di masa lalu,” kata Bupati mengakhiri paparannya. MC Sergai Vivi
477 Views

1 thought on “Narasumber DHS, Bupati Sergai : Budaya Mampu Mengkatrol Wisatawan 

  1. Pluralitas masyarakat Sergei adalah modal sosial dalam mewujudkan wisata budaya berbasis produk kreatif dari masyarakat, seni pertunjukan, kerajinan, seni rupa dan lainnya. Moga sukses pak Soekirman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *