Meretas Pembangunan Sergai Lewat Pembenahan Jalan

Sei Rampah sebagai ibu kota Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) sedang giat berbenah mempercantik wajahnya. Bukan apa-apa, “merias diri” jadi syarat penting bagi sebuah lokasi untuk suskes merepresentasikan statusnya sebagai ibu kota.

Kabarnya, rencana pelebaran jalan lintas Medan-Tebing Tinggi di Sei Rampah termasuk salah satu ancang-ancang buat merealisasikan tujuan itu. Jalan nasional tersebut diproyeksikan akan diperlebar jadi 7 meter, sepanjang 6.3 KM, mulai dari pintu tol Teluk Mengkudu sampai ke pusat kota Sei Rampah.

Optimisme mengiringi rencana ini. Alasannya? Jalan adalah salah satu unsur vital penggerak pembangunan. Mobilitas yang gampang tentu mempermudah masyarakat melaksanakan macam urusannya sebagai para pelaku ekonomi.

Bupati Sergai, Darma Wijaya, rupanya percaya padahal yang sama. Bisa dilihat di berbagai kesempatan ia sering menyerukan jargon “Jalan Mulus, Ekonomi Bagus”. Tak hanya di Sei Rampah saja, keyakinannya itu sudah diaplikasikan di banyak tempat di Bumi Sergai. Bersama Wakilnya, Adlin Tambunan, Darma Wijaya aktif menginisiasi pembangunan dan pembenahan akses jalan.

Masyarakat tentu saja menyambut baik gerak aktif pasangan yang singkat disebut sebagai “Dambaan” ini. Tak sedikit yang mengakui, pembangunan yang diprakarsai keduanya merupakan berkat yang sudah ditunggu-tunggu, bahkan ada yang sampai puluhan tahun. Ibaratnya (tentu saja dalam artian positif) kemarau puluhan tahun dihapus hujan sehari.

Warga yang dulunya tiap hari harus berjibaku dengan jalur tempuh tak layak, kini bisa melintas dengan mudah. Tak ada lagi risau saat musim penghujan tiba, ketika jalanan dilapisi becek dan lumpur.

Baru 8 (delapan) bulan sejak dilantik Februari lalu, Darma Wijaya dan Wakilnya, Adlin Tambunan, sudah berulang kali hadir dalam acara syukuran pembangunan jalan. Ini adalah bentuk ucapan terima kasih dan syukur dari masyarakat atas penantian panjang yang direalisasikan dalam kurun waktu yang tergolong singkat saja. Masyarakat tidak hanya riuh mengkritik. Kalau pembangun berjalan sesuai lajur, tanda terima kasih dan apresiasi akan mengikuti.

Andi, salah seorang warga Desa Tela Sari Kecamatan Dolok Masihul, mengaku sejak zaman presiden Soeharto, bahkan saat Serdang Bedagai sebagai kabupaten masih dalam wujud wacana, baru kali ini jalanan desanya mendapat perbaikan yang layak.

“Udah hampir 40 tahun saya rasa jalan ini rusak parah. Sudah berganti-ganti Bupati, berganti-ganti Kepala Desa tidak juga diaspal. Nah, baru ini lah diaspal,” ungkapnya, hampir tergelak.

Akan tetapi, seperti yang Darma Wijaya tak lelah tegaskan berulang, kerja pembangunan memang tidak mudah. Perlu persiapan dan rencana matang. Belum lagi bicara soal terbatasnya anggaran. Namun ada hal yang jauh lebih pelik lagi: merawat hasilnya.

Manusia pernah membangun hal-hal besar di luar nalar. Piramida, tembok raksasa, dan karya arsitektur brilian lainnya. Tapi tanpa konsistensi menjaga, yang besar dan megah itu, bisa runtuh seketika. Memang, tak adil

menyamakan ruas jalan desa dengan piramida, tapi prinsip “rawat dan jaga” berlaku untuk semua.

Karena itu, urusan rawat-merawat ini jadi wanti-wanti utama Bupati dan Wakilnya kepada masyarakat.

Untuk aspek perawatan, yang sering disuarakan Bang Wiwiek, adalah agar warga berembuk membuat portal penghalang, yang berfungsi membatasi akses kendaraan yang tak layak lewat. Tonase berlebih bisa merusak struktur jalan. Pelan-pelan kerusakan kecil akan melebar-menyatu. Akhirnya ruas jalan yang di awal disyukuri dan didoakan panjang umur, malah berakhir jadi kumpulan lubang yang tak lebih baik dari sebelum dibangun.

Di sinilah pemerintah dan masyarakat harus punya satu pandangan, melangkah beriringan ke satu tujuan.

Membangun Sergai, tidak bisa melulu jadi peran solo pemerintah. Seperti ujar-ujar “seorang pria sukses selalu punya wanita hebat di belakangnya”, pemerintah yang kuat juga perlu sokongan solid dari masyarakat. (ISL)

338 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *