Kearifan Budaya Melayu Serdang Bedagai

Ritual merupakan elemen penting adat-istiadat di dalam Dunia Melayu, tak terkecuali masyarakat Melayu Serdang Bedagai. Ritual Adat Melayu ini menjadi syarat bagi keberadaan Adat-Istiadat Melayu. Lebih jauh, ritual dalam Adat Melayu juga merupakan syarat yang menentukan ada atau tidak Budaya Melayu. Jika ritual sebagai bagian dari adat-istiadat Melayu tidak ada lagi maka tidak ada lagi pula budaya Melayu. Pelaksanaan dan pelestarian ritual adat Melayu sangat terkait antara lain dengan peran raja. Sejak berdirinya Kerajaan Serdang di tahun 1723 M, raja berkuasa atas 3 unsur yaitu pertama sebagai Kepala Pemerintahan Kerajaan, kedua Sebagai Khalifatullah Fil Ard (Pemimpin Agama Islam), dan ketiga Sebagai Kepala Adat.

            Dalam posisinya sebagai kepala adat, raja menerapkan peraturan hukum adat berdasarkan empat unsur yaitu Adat sebenar adat (sesuai dengan hukum alam), Adat yang diadatkan (berdasarkan konsensus raja dan orang besar), Adat yang teradat (lahir dari resam dan kebiasaan masyarakat) dan Adat istiadat (seremoni yang berlaku di istana yang jika raja berganti mungkin saja ini akan berubah).

            Oleh sebab itu relasi timbal balik antara Raja dan Rakyat itu merupakan suatu kontrak sosial sehingga diformulasikan di dalam beberapa pepatah adat Melayu, seperti:

Tiada Raja, Tiada Adat

Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah

Biar mati anak daripada mati adat

Mati anak gembar sekampung, mati adat gempar sebangsa.

            Upacara-upacara ritual masyarakat Melayu Serdang sangat banyak ragamnya, mulai dari ritual yang dilakukan bila seseorang melahirkan sampai pada upacara perkawinan. Upacara ini disebut juga dengan istilah ritus-ritus peralihan (rites of the passages) yang saat ini masih sebagian besar dipercayai oleh masyarakat Melayu Serdang. Ritus-ritus ini sangat berhubungan dengan kehidupan keseharian masyarakat Melayu.

            Lebih rinci, berdasarkan Konvensi Adat Melayu Serdang, ritual adat Melayu Serdang diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Ritual adat terkait siklus kehidupan:

1.1 Adat istiadat perkawinan

1.1.1 Merisik dan penghulu

1.1.2 Jamu sukut

1.1.3 Meminang

1.1.4 Ikat janji

1.1.5 Mengantar bunga sirih

1.1.6 Akad nikah

1.1.7 Berinai

1.1.8 Berendam dan mandi berhias

1.1.9 Bersanding

1.1.10 Makan nasi hadap-hadapan

1.1.11 Mandi berdimbar

1.1.12 Lepas halangan

1.1.13 Mandi selamat

1.1.14 Meminjam pengantin

1.2 Upacara kelahiran:

1.2.1 Melenggang perut

1.2.2 Anak lahir

1.2.3 Membelah mulut

1.2.4 Turun ke sungai/ turun tanah

1.2.5 Berayun bayi

1.2.6 Berkhatam qur’an

1.2.7 Belajar bersilat

1.2.8 Bertindik

1.2.9 Berkhitan

1.3 Upacara kematian

1.3.1 Memandikan mayat

1.3.2 Mengkafani

1.3.3 Rahap (untuk raja dan bangsawan)

  1. Ritual adat terkait mata pencaharian:

2.1.1 Jamu laut

Sinkretisme antara ajaran animisme, Hindu, dan Islam terlihat di beberapa prosesi ritual Melayu Serdang.

            Menurut Syaifuddin HJ.Wan Mahzim, makna simbolik konteks sosial upacara ritual membentuk keseimbangan fisik dan jiwa sehingga membangkitkan kekuatan semangat. Analisis teks mantera ritual menunjukkan adanya kesan seram, suci dan magis. Ini dapat membangun kekuatan fisik, mental dan solidaritas serta menciptakan keteraturan dan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat. Bagi masyarakat Melayu di pesisir Timur Sumatera Utara, mantra dan seremoni ritual merupakan manifestasi percampuran unsur dan keyakinan Islam, Animisme, dan Hinduisme. Keyakinan ini kemudian terefleksi dalam aktivitas kultural mereka.

            Seperti yang dijelaskan di awal, merupakan sebuah usaha yang sangat patut dihargai bagi kelompok masyarakat yang masih mau menjaga warisan budaya di tengah globalisasi dan masifnya pertukaran budaya dari berbagai penjuru, yang tak semuanya membawa pengaruh positif. Dengan dedikasi untuk mempertahankan budaya ini, maka “Tak Melayu Hilang di Bumi”….(berbagai sumber/ISL).

4.021 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *