Punggahan, Tradisi Sambut Bulan Suci Ramadan

Ramadan sudah di depan mata. Bulan penuh ampunan yang dinanti-nanti oleh umat Islam di muka bumi. Kehadiran tamu agung (Ramadan) yang ditunggu umat Islam sedunia ini penuh berkah yang akan mengunjungi di rumah-rumah dan lingkungan kita sebulan lamanya. Kita tentu sudah mempersiapkan kedatangan tamu agung dengan memantaskan pribadi dan hati serta lingkungan tempat tinggal dan tempat ibadah kita.

Sebagaimana datangnya orang terpenting di dunia, segala sesuatu akan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk menyambut kehadirannya. Apalagi tamu yang akan datang ini banyak memberikan hadiah dan kebaikan-kebaikan bagi yang menyambutnya.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh An Nasa’i yang dikutip dari mediaindonesia.com dinyatakan, “Barang siapa yang bergembira akan hadirnya bulan Ramadan, jasadnya tidak akan tersentuh sedikit pun oleh api neraka.” Bergembira menyambut Ramadan sudah mendapat ganjaran yang besar, yaitu akan dijauhkan dari api neraka.

Salah satu amalan ibadah yang datang bersamaan dengan Ramadan yaitu melaksanakan puasa wajib sebagai salah satu pilar dari rukun Islam. Dalam Surat Al Baqarah ayat 183, Allah Subhana Wata’ala  berfirman yang berarti, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Sedangkan tujuan dari puasa adalah mencapai derajat taqwa sebuah derajat tertinggi yang Allah akan berikan kepada hamba-hambaNya.

Seperti halnya juga di Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan jumlah ummat Islam terbanyak di dunia. Selain itu Indonesia juga memiliki ragam budaya yang banyak pula. Pada setiap daerah di Indonesia memiliki budaya yang bernuansa Islam khususnya saat menyambut Ramadan.

Ada banyak sekali tradisi atau budaya yang bisa ditemui yang berkaitan dengan menyambut bulan suci Ramadan di Sumatera Utara. Tradisi yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat Sumatera Utara dalam menyambut Ramadan, yaitu Tradisi Punggahan. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan sarana untuk berkumpul bersama masyarakat di sekitar tempat tinggal. Selain mengasyikkan, tradisi ini juga memiliki banyak nilai yang baik bagi kehidupan.

Dilansir dari laman mudanews, Tradisi Punggahan berasal dari kata munggah yang memiliki arti naik. Maksudnya tradisi ini diharapkan mampu menaikkan derajat manusia dalam menghadapi bulan puasa, baik secara lahiriyah dan batiniyah.

Tradisi Punggahan ini telah berlangsung dari jaman dulu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah dengan datangnya Bulan Ramadhan. Di daerah lain, Tradisi Punggahan berlangsung beberapa hari sebelum Ramadan tiba dengan cara yang unik dan berbeda-beda pula. Namun di Sumatera Utara biasanya tradisi ini berlangsung sehari atau dua hari di malam sebelum Ramadan.

Tradisi ini dijadikan momentum bagi masyarakat untuk mempererat kesatuan dan persatuan antar sesama. Dalam hal ini, warga menjadi berkumpul, saling menyapa, dan saling bersilaturahmi. Selain itu, tradisi ini juga mempererat kerukunan warga dalam bermasyarakat.

Tradisi Punggahan juga digunakan oleh masyarakat sebagai sarana untuk mendoakan para orang tua yang telah meninggal dunia. Biasanya, masyarakat akan melantunkan doa-doa seperti tahlil dan bacaan Surah Yasin.

Lantunan doa-doa tersebut sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT untuk mendapatkan ketenangan jiwa, serta untuk mendoakan para arwah leluhur yakni para keluarga atau leluhur yang telah meninggal dunia, agar Allah SWT menempatkan arwahnya di tempat yang mulia.

Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Dusun V Sidodadi Desa Pematang Setrak Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai. Masyarakat melakukan Tradisi Punggahan di Masjid dengan melakukan ritual kenduri yang dilaksanakan setelah salat Isya.

Agus, warga desa tersebut mengungkapkan bahwa masing-masing dari masyarakat membawa makanan (berkat) dari rumahnya untuk kemudian dikumpulkan di Masjid. Setelah itu melakukan ritual doa bersama sebagai ungkapan syukur menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Kemudian kegiatan ditutup dengan makan bersama serta saling bertukar makanan (berkat) yang mereka bawa sendiri dari rumah. Jika ada sisanya dengan senang hati mereka akan membawanya pulang ke rumah, kata Agus.

Tentu saja bukan hanya di Sumatera Utara yang memiliki tradisi punggahan yang unik seperti ini, di beberapa daerah mungkin saja punya tradisi yang sama dengan tujuan yang sama juga pastinya. (Dari berbagai sumber : ISL).

19.447 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *