Strategi Nelayan di Desa Sei Nagalawan

Desa Sei Nagalawan sudah berdiri sekitar tahun 1800, yakni pada saat terjadi migrasi suku bangsa Banjar yang berasal dari Pulau Kalimantan menuju Pulau Sumatera. Migrasi yang mereka lakukan bermula pada daerah Langkat Sumatera Utara dengan tujuan membuat atap sebuah bangsal di perkebunan Langkat. Seiring berjalannya waktu suku Banjar tersebut mulai bertambah dan mereka meminggir sampai ke daerah Nagalawan. Sampai sekarang ini, migrasi yang mereka lakukan guna untuk mencari kehidupan yang lebih baik dengan kondisi lingkungan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya nelayan tradisional.

            Sama halnya dengan komunitas masyarakat lainnya, nelayan juga memiliki peran dan tanggung jawab pada keluarganya, yaitu pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga yang meliputi biaya-biaya seperti biaya pendidikan anak, tempat tinggal, air dan listrik, biaya sosial dan biaya untuk kebutuhan lainnya. Namun, dengan pendapatan nelayan yang cukup minim, nelayan tradisional merupakan kelompok masyarakat yang hidupnya jauh lebih miskin dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya seperti petani atau pengrajin. Hidupnya sangat tergantung kepada alam, musim banyaknya hasil tangkapan, sehingga pendapatan nelayan pun tidak menentu.

            Ada berbagai macam bentuk kegiatan yang dilakukan manusia dalam mencari nafkah. Kadangkala hasil yang diperoleh dari kegiatan itu tidak dapat pula mencukupi kebutuhan sebagaimana yang dihadapkan, sehingga seringkali suami sebagai kepala rumah tangga dalam mencari nafkah turut dibantu oleh istri ataupun anak-anak. Manusia lahir, hidup, berkembang, dan memenuhi kebutuhannya juga di masyarakat. Salah satu kegiatan yang menonjol adalah mencari nafkah, dan bidang inilah yang paling banyak menyerap tenaga kerja dengan kegiatan ini mereka harapkan dapat memenuhi kebutuhan di dalam kehidupan mereka (Ismaini, 1976:45).

            Berdasarkan penelitian Mubyarto (1984:35-37) di Desa Bulu, yang menyatakan bahwa jumlah mereka yang bekerja sebagai nelayan nampak sangat dominan dibandingkan dengan pekerjaan lainnya. Bila pekerjaan sebagai nelayan hanya dianggap sebagai salah satu dari kategori mata pencaharian di bidang perikanan, tentunya harus dimasukkan juga mereka yang berdagang, buruh yang mempunyai pekerjaan sambilan sebagai nelayan, pegawai atau pensiunan pegawai negeri yang diantaranya ada juga yang berdagang atau berusaha di bidang perikanan sebagai usaha sambilan. Di samping itu, usaha perikanan masih melibatkan banyak lagi anggota keluarga di desa terutama anggota keluarga dari mereka yang tercatat nelayan sebagai mata pencahariannya.

            Peranan kepala rumah tangga yang harus menghidupi keluarganya dipegang oleh ayah atau suami, yang bekerja sebagai nelayan atau pekerjaan yang paling langsung di bidang usaha perikanan. Bila ekonomi keluarga tidak begitu kuat atau kurang dari kebutuhan keluarga, isterinya membantu bekerja sebagai pedagang ikan, baik di pasar sebagai pedagang ikan panggang eceran, atau sebagai pedagang ikan borongan pada para pedagang besar. Kaum wanita juga membantu keluarga dengan bekerja sebagai buruh perusahaan ubur-ubur, pembersih udang pada pedagang udang, pedagang ikan asin atau pembuat jaring ikan di rumah mereka masing-masing. Sedangkan anak laki-laki atau perempuan baik bersekolah atau tidak, terlebih lagi bila orang tua mereka kurang mampu juga mempunyai peranan ekonomis dalam keluarga. Mereka digolongkan sebagai alang-alang, yaitu rombongan menguntit nelayan yang berusaha mendapatkan ikan tanpa harus membeli.

            Hal tersebut juga terjadi pada masyarakat nelayan tradisional yang ada di Desa Sei Nagalawan, yang memiliki strategi berbeda yang dilakukan yakni, dengan adanya mata pencaharian tambahan lain yang dilakukan oleh nelayan dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Mereka menyadari bahwa mata pencaharian sebagai nelayan tidak akan dapat untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Oleh karena itu, berbagai cara dilakukan untuk menambah penghasilan dengan cara menjadi petani, istri mereka bekerja sebagai penganyam tikar, dan anak-anak juga ikut membantu dengan bekerja di luar sektor perikanan yaitu sebagai buruh atau karyawan pabrik.

            Strategi tersebut mereka lakukan karena adanya lahan pendukung berupa tanah kosong yang tidak terawat dan dapat dimanfaatkan, sehingga hasilnya pun dapat dijual ataupun dikonsumsi sendiri. Walaupun pengetahuan mereka dalam bertani masih sangat terbatas dibandingkan dengan mata pencaharian pokok sebagai nelayan tradisional.

            Walaupun demikian mereka tetap menyadari bahwa diri mereka tetap sebagai nelayan karena petani hanya sebagai strategi yang dilakukan untuk meningkatkan kebutuhan ekonomi dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Berkenaan dengan uraian tersebut maka pentinglah kiranya mengkaji berbagai strategi yang dilakukan nelayan dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Hal tersebut dapat mengungkapkan kehidupan ekonomi nelayan tradisional yang sesungguhnya dan upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi atau mencukupi kebutuhan hidupnya.

            Dengan hal tersebut nelayan dapat bertahan maupun meningkatkan ekonomi keluarga, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup lainnya. (Berbagai Sumber / ISL). 

1.003 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *