Mengenal Tari Gobuk, Kesenian Khas Melayu Tanjung Beringin

Tari Gobuk Merupakan kesenian yang lahir dari Desa Pekan Tanjung Beringin, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Berdagai (Serdang), Sumatera Utara pada tahun 1985. Pada Tari Gobuk ini dikenal sebagai kesenian untuk pengobatan bagi warga yang mengalami penyakit. Pengobatan dengan cara menampilkan Tari Gobuk ini bukanlah untuk semua warga, melainkan dikhususkan bagi keluarga yang memiliki garis keturunan yang mewariskan kesenian tersebut.

Setiap daerah merupakan bagian kehidupan dengan beranekaragam suku dan beranekaragam budaya, seperti Kabupaten Sergai, namun dalam kehidupan masyarakat bangsa Indonesia nuansa-nuansa itu terlihat jelas bila masyarakatnya kembali dan tunduk kepada kebiasaan-kebiasaan atau adat yang tinggalkan oleh leluhurnya. Dahulu kabupaten Sergai merupakan wilayah kesultanan Serdang dan kerajaan Bedagai yang banyak meninggalkan goresan-goresan sejarah masa lampau. Desa Pekan Tanjung Beringin, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Sergai, desa yang berpenduduk mayoritas etnis Melayu sebagai nelayan tradisional yang sudah turun temurun kalau badai dan ombak sudah bersahabat dengan masyarakat Melayu.

Menurut penjelasan pemilik Sanggar Lancang Kuning Tanjung Beringin, Mahyu Daniel (40) warga Desa Pekan Tanjung Beringin, Tari Gobuk ini memiliki kisah yang bersejarah sewaktu awal munculnya kesenian tersebut. Bermula dari seorang suku Melayu yang memiliki garis keturunan penguasa di suatu desa yang sekarang disebut Desa Pekan Tanjung Beringin. Orang tersebut saat itu sedang tekun membuat sampan entah apa penyebabnya ketika ingin memperindah kayu yang ada di dalam sampan yang hampir rampung pembuatanya itu dengan menggunakan kapak yang dipergunakan mengenai salah satu kakinya hingga luka.

Oleh karena itu di saat pengobatan secara medis seperti sekarang ini tidak begitu mudah untuk diperoleh dikarenakan rumah sakit dan pukesmas belumlah ada, sehingga dia yang memang sudah dikarunia dengan kesaktian akhirnya luka itu diobatinya dengan sendiri. Pengobatan tersebut dilakukan dengan cara mengucapkan bagian luka dengan salah satu telapak tangannya dan bersatulah kaki yang mengalami luka tersebut, ternyata luka yang didalam tidak mengalami kesembuhan, mungkin lukanya terlalu dalam.

Pada saat itu dengan kondisi tidak begitu sehat, orang keturuan penguasa ini keesokan harinya pergi ke suatu tempat pantai dan duduk sambil melantumkan sebuah senandung. Saat senandung dilantumkan tidak sengaja dia mendapatkan petunjuk bahwa kaki yang luka itu bisa diobati dengan cara menyediakan 7 gobuk, bunga 4 warna dan sekaligus menampilkan “Tari Gobuk” dan akhirnya penyakit yang diderita akan sembuh. Setelah mengetahui nya orang yang mengalami sakit tersebut langsung melaksanakan sesuai dengan syarat yang sudah diketahui, ternyata petunjuk tersebut benar dan kaki yang luka di dalam menjadi sembuh total. Kemudian memberikan informasi ini bahwa setiap anak hingga cucu dan keturunnya yang mengalami sakit dapat diobati dengan cara sebagaimana mengobati penyakit yang diderita.

Tari Gobuk ini merupakan budaya turun menurun yang harus kita lestarikan khususnya bagi generasi muda. Dengan budaya kita bisa memperkenalkan daerah sergai dan bangsa Indonesia keluar daerah bahkan luar negeri. Hal ini sangat penting agar budaya yang ada di daerah Sergai tetap terjaga dan tidak diambil oleh negara lain maupun bangsa luar Negeri “Jangan abaikan budaya dan mari kita galakan budaya lokal”. Tari Gobuk ini bermakna Sebuah upacara ritual pemujaan terhadap mambang yang berfungsi sebagai pengobatan atau penyembuhan orang sakit, yang bermula dari sebuah upacara ritual siar mambang.

Apalah guna baca bismilah

berserah diri kepada Tuhan

apalah tanda negri betuah

seiring sembah salam sampai kan

aaahooooiiiiiiiii…….assalamualaikum tuan

assalamualaikum kami ucapkan

terhadap tuan puan ahoiiiiiiiiiiiii puan budiman

kita seiring seirama sejalan menghayutkan lancang

menghayutkan lancang

Upacara Tari Gobuk adalah priuk yang dibuat dari tanah liat dulunya priuk nasi digunakan untuk memasak nasi tetapi sekarang fungsinya berbeda karena gobuk digunakan untuk merebus obat atau membuat obat. priuk tanah dipersiapkan 7 gobuk dan dihiasi dengan janur dibentuk seperti burung, udang, ikan, ular-ular dan lipan. Kue rengginang, kue cincin, kue ketupat, kue karas, dan kue dodol.

Ahooiiiiiiiii tuan puan…..

Amboooiiiiii ……..

Assalamualaikum kami datang tuan puan

Ambooiiiiiiii………

Ku panggil dayang ku panggil dayang yang tujuh

Tari Gobuk adalah sebuah tari tradisional suku Melayu yang ada di pesisir pantai khususnya desa pekan Tanjung Beringin, tarian ini dibuat untuk mengobati keluarga yang terkena penyakit adalah suatu tanda dari nenek moyang karena untuk memerikan penghormatan pada arwah nenek moyang yang setiap tiga tahun sekali harus dilaksanakan pada hari yang telah disepakati sejak dahulu.

Upacara Tari Gobuk dilaksanakan pada malam hari biasanya pada malam Selasa atau malam Sabtu. Seluruh keluarga berkumpul ditempat upacara, musik serunai dan gendang mengiringi serunai dan penyenandung mengundang dari alam ghaib kemudian para penari memulai menari dan mengelilingi tujuh Gobuk yang sudah dipersiapkan dan dihiasi memakai janur atau daun kelapa. Penari mengelilingi Gobuk sebanyak tiga kali kemudian para penari mengikat tujuh Gobuk dengan benang tiga warna sebagai tanda penangguhan telah selesai dan kemudian upacara tari Gobuk dimulai. Pawang menepung tawari seluruh peserta upacara kemudian dibacakan mantra dan menyelimuti si sakit memakai kain putih lalu menyerahkan pinang kepada dukun tersebut untuk melaksanakan upacara pengobatan Tari Gobuk.

Nah itulah tadi sejarah Tari Gobuk  dan hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Melayu khususnya yang bermukim di Kecamatan Tanjung Beringin Kabupaten Sergai. (Berbagai sumber / ISL).

 

2.523 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *