Jamu Laut, Tradisi Masyarakat Pesisir Sergai

Masih soal tentang budaya yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dan di beberapa wilayah Provinsi Sumatera Utara (Provsu). Ritual ini sudah berlangsung sejak lama dan masih dilestarikan hingga saat ini, namun diselaraskan dengan ajaran agama Islam yang dianut sebagian besar masyarakat pesisir di Kabupaten Sergai.

Salah satu budaya yang hingga kini masih dilestarikan oleh suku Melayu masyarakat pesisir yaitu yang berada di Desa Kuala Lama Kecamatan Pantai Cermin. Tradisi masyarakat pesisir pantai/laut yang biasa di lakukan adalah ritual/upacara Jamu Laut.

Ritual Jamu Laut berasal dari masyarakat Melayu lama yang terus hidup sesuai dengan perkembangan kepercayaan masyarakat pesisir itu sendiri. Kepercayaan atau upacara ini mempunyai asal yang sama dengan asal nenek moyang dari berbagai suku-suku di nusantara yakni dari Asia dan kawasan Indo-China yang datang sekitar ratusan tahun yang lalu.

Tradisi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai tradisi masyarakat pesisir khususnya di wilayah Sergai. Ritual ini juga bertujuan untuk memberikan persembahan kepada para penunggu laut atau yang dikenal dengan sebutan Mambang Laut. Adat Jamu Laut merupakan tradisi Melayu yang berada di daerah pesisir sebagai warisan leluhur yang perlu dilestarikan. Pelestarian tradisi budaya harus dikuatkan karena merupakan sebuah sejarah yang tidak bisa dilepaskan dari bangsa ini.

Kabupaten Tanah Bertuah Negeri Beradat merupakan wilayah yang memiliki garis pantai cukup panjang dan sebagian besar masyarakatnya juga bermatapencaharian sebagai nelayan. Budaya jamu laut juga tidak terlepas dari tradisi nelayan yang dipercaya untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan.

Dilansir dari akun Kompasiana.com, menurut tokoh adat Desa Kuala Lama, H. Wan Adham Nuh menjelaskan adat jamu laut ini sebagai bentuk tolak bala yang dilakukan secara rutin selama 5 tahun sekali. Setelah adat digelar diharapkan para nelayan tidak melaut selana 3 hari agar hasil tangkapan melimpah.

Tradisi budaya jamu laut ini sebagai bentuk kekuatan terhadap para nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya laut dan akan mendapat berkah dalam mencari nafkah. Budaya jamu laut ini juga sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT, karena melalui adat Jamu Laut ini, masyarakat juga berharap agar rezeki yang didapat berlimpah dan ekonomi warga meningkat.

Dalam pelaksanaan ritual jamu laut terdapat tahap perjamuan makan (sesajen) yang ditujukan kepada penghuni laut yang menguasai laut dan kaum nelayan percaya bahwa itu akan mendatangkan keselamatan dan keberkahan.

Selain memberikan sesajen ke laut, upacara ini juga diisi dengan melakukan zikir dan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh beserta pawang laut setempat. Orang yang paling berpengaruh dalam pelaksanaan ritual jamu laut adalah pawang laut, yakni orang yang diyakini mempunyai kekuatan magic dan mampu menguasi penghuni laut. Pawang laut berperan penting dalam kehidupan masyarakat pesisir dan menjadi tumpuan nelayan untuk berkomunikasi dengan roh-roh gaib yang menguasai laut.

Ritual jamu laut tidak terlalu lekat dengan ritual memohon berkah dan perlindungan kepada makhluk gaib penunggu laut, melainkan sebagai media permohonan dan wujud syukur kepada Allah SWT. Namun, disisi lain masyrakat sekitar tetap mempercayai bahwa mahluk gaib penunggu laut itu tetap ada.

Itulah ritual yang masih ada hingga saat ini, walaupun pelaksanaannya di lakukan hanya 5 tahun sekali, namun harus tetap kita lestarikan karena merupakan warisan budaya leluhur.(berbagai sumber/ISL)

100 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *