Manfaatkan Pohon Rumbia Hingga Bernilai Ekonomis

Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi tanaman pangan khususnya padi, sagu, jagung dan palawija lainnya di Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Kabupaten Sergai merupakan daerah yang sangat subur dan banyak pendudukny menggantungkan pekerjaannya dari hasil pertanian, sehingga peranan sektor ini sangat penting bagi masyarakat yang memanfaatkan lahan pertanian tersebut.

Sektor pertanian dengan segala kelebihan dan kekurangannya masih menjadi tumpuan masyarakat sebagai matapencaharian utama dan masih sebagai sektor andalan. Hasil pertanian tanaman pangan merupakan komoditi yang sangat strategis karena menyangkut kebutuhan pokok masyarakat.

Salah satu tanaman pangan yang mampu menopang kebutuhan pokok masyarakat Kabupaten Sergai Tanag Bertuah negeri Beradat adalah tanaman sagu atau rumbia. Tanaman ini banyak di jumpai di Desa Sei Nagalawan Kecamatan Perbaungan.

Daun dan batang rumbia bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan tentunya menghasilkan nilai jual. Seperti daunnya yang bisa dimanfaatkan menjadi atap rumah atau lainnya sesuai kebutuhan. Sedangkan batangnya bisa diolah menjadi sagu tepatnya tepung sagu. Namun, pengolahannya sedikit rumit karena memerlukan beberapa langkah pengerjaan. Sedikit ulasan tentang pengolahan sagu menjadi tepung, yuk kita simak.

Sagu atau pohon rumbia merupakan salah satu makanan pokok (pengganti padi) masyarakat Indonesia khususnya di Sergai. Tanaman sagu juga memiliki tajuk pohon (kenampakan dari keseluruhan daun cabang, ranting, bunga dan buah) yang terbentuk dari pelepah dengan daun yang bersirip. Tinggi pohon sagu dewasa dapat mencapai 8 hingga 17 meter. Bahkan, beberapa pohon rumbia dapat mencapai 30 meter tergantung dari jenis dan kondisi tempat tumbuh.

Pohon sagu atau rumbia dengan nama ilmiahnya metroxylon sagu, termasuk dalam pohon dari famili palmae wilayah tropik basah. Tumbuhan ini tinggal pada umumnya di daerah rawa-rawa air tawar atau daerah rawa bergambut, daerah pinggir dari aliran sungai, dekat dengan sumber air dan hutan-hutan rawa.

Tepung sagu termasuk hasil hutan bukan kayu (HHBK) berupa pati yang dihasilkan dari batang pohon sagu yang kemudian akan di panen untuk dikonsumsi. Satu pohon sagu yang memiliki ketinggian hingga dapat menghasilkan 150-300 kilogram bahan baku tepung sagu. Pohon rumbia yang sudah ditebang akan mulai dikupas kulit batangnya dan daging batang akan dipotong-potong sepanjang 50-100 cm. Potongan batang sagu yang penuh dengan daging sagu akan masuk ke proses pemarutan, yang saat ini sudah tergantikan oleh mesin. Diberi air kemudian disaring, diperas, dan menjadi tepung. Proses dalam tahapan ini akan diulang beberapa kali hingga tepung benar-benar halus.

 Tepung sagu yang sudah siap di konsumsi banyak diolah menjadi papeda yakni makanan dengan tekstur seperti bubur kental yang dihidangkan dengan pelengkap lauk pada umumnya. Selain itu tepung sagu juga banyak diolah menjadi makanan ringan tradisional. Kandungan dari sagu hampir sama dengan beras loh sobat ISL, bahkan lebih sehat untuk dikonsumsi karena bebas gluten atau protein yang bisa memicu penyakit coeliac atau celiac pada orang tertentu. Sagu sesungguhnya sangat mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.

Sagu mengandung karbohidrat yang tinggi juga mengandung nutrisi lain seperti protein, lemak, serat dan zink. Kelebihannya yang rendah gluten sehingga baik untuk dijadikan pengganti tepung bagi mereka penderita celiac dan yang menjalani diet ketat. Sagu juga diketahui kaya akan antioksidan yang bermanfaat untuk menangkap radikal bebas.

Nah sobat ISL tertarik untuk mengolah pohon rumbia menjadi lebih bermanfaat lagi, selain kita manfaatkan juga bisa kita lestarikan populasi rumbia ini, karena sekarang semakin sedikit dan susahnya didapat pohon rumbia di Sergai ini. (berbagai sumber/ISL).

215 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *