Miniatur Indonesia Bernama Serdang Bedagai

Serdang Bedagai (Sergai) bisa dibilang sebagai salah satu miniatur Indonesia. Ini bisa dilihat dari betapa heterogennya warga yang tinggal menetap di Tanah Bertuah Negeri Beradat. Meskipun dikenal sebagai tanah melayu, Sergai juga jadi domisili bagi warga yang punya latar belakang budaya yang warna-warni. Mulai dari etnis lokal Sumatera seperti Batak, Karo, Nias, Aceh, Padang, dan lain sebagainya, hingga yang berasal dari luar pulau seperti Jawa, Banjar, Sunda Banten, Bali, dan banyak lagi.

Keanekaragaman ini, secara baik bisa dijaga kerukunannya. Hingga sampai 17 tahun Kabupaten Sergai berdiri, jarang, jika tidak bisa dikatakan tidak ada, konflik horizontal yang terjadi yang dilatarbelakangi urusan SARA, terutama perihal perbedaan etnis. Bahkan, keanekaragaman budaya ini tidak hanya dibiarkan sebagai kondisi yang diterima  sebagai hal wajar, namun lebih jauh lagi, bisa dimanfaatkan dan dikelola sebagai aset pariwisata yang menarik.

Saat ini di Sergai sudah ada 3 kampung budaya, yaitu Kampung Budaya Melayu, Jawa, dan yang terakhir diresmikan, Kampung Budaya Banjar. Kampung budaya ini merupakan sebuah area di mana corak khas dalam daerah itu didominasi oleh kebudayaan tertentu. Direncanakan, setelah ini menyusul diresmikan Kampung Budaya Bali, Batak, Minang, Aceh, Sunda, Banten, Mandailing, dan suku lainnya.

Hal tersebut jadi bukti jika pemerintah daerah punya concern yang besar terhadap proses pelestarian budaya yang tinggal dan hidup di Bumi Sergai.

Selain sebagai wujud usaha melestarikan kebudayaan, adanya ragam warna etnisitas di Sergai juga jadi salah satu aset berharga yang bisa dimaksimalkan potensinya untuk meningkatkan sektor pariwisata lokal.

Misalnya, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, kampung budaya Bali yang terletak di Desa Pegajahan, Kecamatan Pegajahan, bisa menjadi pilihan wisata yang menarik. Pulau Bali sebagai objek wisata unggulan nasional tentu unik jika kepingannya bisa ditemukan di daerah yang terletak jauh dari pulau asalnya. Kesungguhan penduduk Bali yang bermigrasi puluhan tahun lalu ke Sergai untuk menjaga dan merawat tradisi nenek moyang, tentu patut mendapat apresiasi yang besar. Ini juga bisa dijadikan alternatif bagi warga sekitar Sergai yang belum memungkinan untuk hadir langsung ke Pulau Dewata untuk berkenalan sekilas dengan kebudayaan Bali.

Selain itu, sebagai salah satu kabupaten yang kental dengan budaya melayu, Sergai juga berupaya menjaga kelestariannya, sesuai dengan jargon “Takkan Melayu hilang di bumi”. Tahun 2018, Bupati Sergai Darma Wijaya, yang saat itu masih menjabat sebagai Wakil Bupati, meresmikan Kampung Budaya Melayu di Desa Pekan Tanjung Beringin Kecamatan Tanjung Beringin.

Yang juga tak kalah menarik, pada agustus 2020, Wali Kota Banjarmasin secara virtual ikut meresmikan Kampung Budaya Banjar yang terletak di Desa Lubuk Cemara Kecamatan Perbaungan.

Dalam kesempatan tersebut Wali Kota Banjarmasin menyampaikan rasa tersanjungnya atas penghargaan yang dilakukan oleh Sergai kepada budaya Banjar.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Sergai beserta jajaran atas perhatiannya pada suku Banjar, dan selamat atas peresmian Kampung Budaya Banjar ini, semoga kedepannya dapat melestarikan budaya khas khususnya Banjar agar tetap eksis dalam kehidupan bermasyarakat. Sampaikan salam kepada masyarakat Sergai khususnya warga Banjar, semoga persahabatan Banjarmasin dan Sergai ini selalu terjalin erat hingga selamanya,” ungkapnya.

Bupati Sergai sendiri meyakini jika budaya dan adat istiadat adalah perangkat yang bisa memfilter diri generasi dari arus globalisasi yang bisa saja membawa  pengaruh buru.

“Jadikanlah adat istiadat sebagai pakaian dan payung yang meneduhkan dan mengiringi setiap langkah untuk menjadikan Sergai sebagai Kabupaten yang tidak melupa jati dirinya,” ucap Bupati Sergai kala itu…..(ISL)

2.378 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *