Sejarah Singkat Kota Perbaungan

Salah satu kota yang termasuk ke dalam wilayah Serdang Bedagai (Sergai) Provinsi Sumatra Utara adalah kota Perbaungan. Kota Perbaungan sekarang ini merupakan salah satu kota yang memiliki beberapa peninggalan sejarah berupa bangunan-bangunan yang telah berdiri sejak masa kesultanan Serdang dan kolonialisme Belanda walaupun diantaranya ada yang mengalami perbaikan dan ada juga menjadi bangunan tak terawat karena kurangnya perhatian.

Sejarah kota Perbaungan tak bisa terlepas dari sejarah Kesultanan Serdang. Kesultanan Serdang terbentuk karena adanya perpecahan yang ditandai dengan perebutan tahta di Kesultanan Deli sekitar tahun 1723 tepat setelah mengangkatnya Tuanku Panglima Paderap yakni pendiri Kesultanan Deli. Konflik terjadi karena anak kedua pendiri Kesultanan Deli yakni Tuanku Gandar wahid mengambil ahli tahta yang seharusnya menjadi hak milik Tuanku Umar. Akhirnya Tuanku Umar bernama ibunya Tuanku Puan Sampali pindah dari sampali dan mendirikan kampung Besar (Serdang).

Kesultanan Serdang semakin memperlihatkan kemajuan setelah putra dari Tuanku Umar yakni Tuanku Ainan Djhoan Alamsjah naik tahta dan menggantikan posisi ayahnya. Ini terbukti dengan semakin meluasnya wilayah kekuasaan Kesultanan Serdang hingga ke Percut dan Serdang Hulu. Perbaungan didirikan sekitar 1724 oleh Panglima Sultan Abdul Djalil Rachmatsyah yang kemudian menjadi Sultan Kerajaan Perbaungan (Sinar,1971:106). Berdasarkan informasi lisan kata Perbaungan sendiri berasal dari kata dasarnya yaitu “baung” yang merujuk pada nama ikan. Dahulu di wilayah ini populasi ikan baung terkenal banyak. Sehingga orang-orang menggunakan ciri khas tersebut sebagai identitas nama wilayah yang kemudian dikenal dengan nama Perbaungan.

Bergabungnya Perbaungan dengan Kesultanan Serdang bukan di karenakan adanya penyerangan oleh pihak Kesultanan Serdang terhadap Kerajaan Perbaungan, tetapi karena terjadinya hubungan perkawinan antara kedua kerajaan tersebut. Dalam perret (2010:151) disebutkan bahwa terjadi sejumlah perkawinan dengan Minangkabau pada beberapa generasi Kesultanan Serdang yang terjadi dari Tuanku Ainan Johan, Sultan Thaf Sinar Basyarsyah, Sultan Basyaruddin syaiful alamsyah dan Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah.

Pada awalnya pusat pemerintahan Serdang sendiri berada di Rantau Panjang, kemudian pemerintahan Hindia – Belanda Sempat memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Serdang ke Lubuk Pakam pada 1891. Akan tetapi Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah menolaknya dan justru memindahkan pusat pemerintahan ke Perbaungan yang ditandai dengan diresmikannya Istana Darul Arif pada tahun 1896 di Desa Kota Galuh Perbaungan. Sultan Basyaruddin mangkat pada tanggal 7 Muharram 1279 (1880M) bergelar Marhom Kota Baru.

Tampuk kesultanan kemudian diserahkan kepada putera tunggalnya yakni Tuanku Sulaiman Syariful Alamshah (1880-1946). Pengangkatan beliau menjadi Sultan menggatikan ayahnya dipermasalahkan oleh Pemerintahan Belanda.

Pada masa pemerintahan begitu banyak perubahan terjadi pada Kesultanan Serdang. Dengan uang pribadinya sendiri dari kas kerajaan Sultan Sulaiman membuka Serdang Kanaal, melempangkan sungai Serdang untuk mengeringkan air bah dan rawa-rawa. Tujuan pembangunan ini adalah untuk mengairi sawah rakyat seluas 2.000 Ha yang tidak lain untuk menyejahterahkan raykat petani, sehingga Serdang kemudian dikenal sebagai lumbung padi diantara Kesultanan Melayu Sumatera Timur lainnya. Istana Darul arif dan Mesjid Raya Sulaimaniyah serta kompleks pertokoan dan pasar di Perbaungan mulai didirikan pada tahun 1889. Kemudian tempat dikenal dengan nama “Kota Simpang Tiga/Bandar Setia”. Namun peristiwa sejarah yang terjadi di tahun 1946 menghapuskan kekuasaan dari seluruh kerjaaan dan kesultanan yang ada di wilayah Sumatera Timur.

Dengan peristiwa tersebut maka akhirnya seluruh kekuasaan yang dimiliki oleh kesultanan/kerajaan yang di Sumatera Timur bersatu dalam NKRI dan masuk ke dalam wilayah administrasi Provinsi Sumatera yang dipimpin oleh Mr.Teuku Muhammad Hasan sebagai Gubernur pada masa itu. Maka kemudian berakhirlah masa Kesultanan Serdang di Perbaungan.

Dalam mengetahui suatu perkembangan kota kita juga harus mengetahui bagaimana sejarah-sejarah maupun peninggalan-peninggalan bersejarah yang masih ada atau tidak terhadap daerah tersebut. Untuk mengetahui sejarah dan peninggalan-peninggalan dari perkembangan kota Perbaungan masa Kesultanan Serdang yang masih ada hingga kini serta upaya membangun kota Perbaungan kini dengan menampilkan nilai historis yang dimilikinya. Perubahan status kota Perbaungan yang menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Serdang, semakin memberikan dampak langsung terhadap perkembangan yang dialami oleh Perbaungan. Konsep sebuah kota mulai tampak pada saat itu, ditandai dengan mulai berdirinya berbagai bangunan sebagai fasilitas pelayanan terhadap masyarakat….(berbagai sumber/ISL).

10.285 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *