Tradisi Unik “Marripang” Warga Toba di Sei Bamban, Sergai

Masyarakat Desa Hapoltahan, Sei Bamban, yang mayoritas suku Batak Toba akrab dengan istilah senang merantau atau berpindah ke daerah lain, baik migrasi atau sementara. Masyarakat Desa Hapoltahan pada umumnya melakukan perpindahan (mobilitas). Perpindahan itu sendiri bukan hanya didorong oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh faktor lain seperti faktor sosial atau faktor budaya, dan lain-lain. Masyarakat Desa Hapoltahan berkunjung atau tinggal sementara untuk suatu tujuan sebagai upaya mencari pendapatan tambahan dengan cara memanen padi di daerah tujuan. Aktivitas itu disebut dengan marripang oleh masyarakat Desa Hapoltahan Kecamatan Sei Bamban.

Marripang berarti perpindahan (mobilitas) sementara yang dilakukan masyarakat Desa Hapoltahan ke daerah lain dengan memanen padi di daerah tujuan pada saat musim panen tiba. Setiap tahun pada bulan tertentu mereka berada di daerah asal dan pada bulan tertentu berada di daerah tujuan. Kegiatan marripang pada kelompok masyarakat Desa Hapoltahan ini merupakan suatu kebiasaan yang sudah sering dilakukan. Marripang merupakan satu istilah yang digunakan masyarakat Desa Hapoltahan yang berasal dari bahasa Batak Toba dalam mengartikan jenis mobilitas yang mereka lakukan untuk mencari pendapatan tambahan ke daerah lain.

Demikian juga halnya dengan masyarakat Desa Hapoltahan, yang mana sebagian besar masyarakatnya hidup dari bertani. Lahan pertanian dikelola sudah cukup modern dengan mengadakan panenan sebanyak dua kali dalam setahun. Pada panenan pertama padi disemaikan pada bulan Oktober dan ditanam pada pertengahan November. Pada awal Maret hingga April, padi siap untuk dipanen. Sedangkan pada panenan kedua padi disemaikan pada bulan Mei dan ditanam pada bulan Juni. Pada akhir September hingga awal Oktober padi siap untuk dipanen.

Orang yang melakukan kegiatan marripang disebut parripang, karena imbuhan par dalam bahasa Batak Toba menunjukkan orang yang melakukan aktivitas tersebut. Namun tidak seluruh anggota parripang merupakan masyarakat Batak Toba melainkan beberapa masyarakat suku Jawa yang ikut serta dalam kegiatan marripang. Para parripang adalah mereka yang mempunyai mata pencaharian utama sebagai petani dengan usia rata-rata 18-49 tahun

Cara kerja dalam kegiatan marripang pada Masyarakat Desa Hapoltahan yaitu dengan sistem bagi hasil. Dimana, hasil pendapatan yang diperoleh parripang pada hari itu dikumpulkan sesuai banyak lahan yang mereka kerjakan, dan akan dibagi rata sesuai jumlah parripang yang turut serta dalam kegiatan marripang.

Pada sekitar akhir bulan November, masyarakat Batak Toba Desa Hapoltahan mulai melakukan kegiatan marripang ke daerah lain, dan biasanya itu di daerah yang dekat seperti di Perbaungan yang tidak membutuhkan perjalanan yang lama dan bisa pergi ketempat tujuan dan pulang pada hari itu juga. Masyarakat Batak Toba Desa Hapoltahan melakukan kegiatan marripang hingga masa panen berakhir di daerah Perbaungan. Kemudian, para parripang melakukan kegiatan marripang ke daerah yang lumayan jauh seperti daerah Tapanuli pada saat bulan pertengahan Desember hingga selesai. Masyarakat Desa Hapoltahan tidak akan pergi marripang pada saat mereka sedang memanen lahannya sendiri.

Para parripang biasanya terdiri dari grup-grup tertentu, tergantung ke daerah mana mereka pergi. Setiap grup parripang terdiri dari minimal 5 orang dan maksimal 15 orang. Para parripang juga terdiri dari perempuan dan juga laki-laki. Tetapi biasanya lebih banyak kaum laki-laki daripada perempuan, dan tidak ditentukan kriteria jumlah laki-laki atau perempuan harus berapa orang, semua tergantung kesepakatan dari grup mereka sendiri dan siapa saja yang bisa turut serta dalam kegiatan marripang.

Motivasi marripang menurut masing-masing kelompok parripang berbeda-beda. Di antaranya untuk mengisi waktu luang, menjaga kebersamaan antar parripang, dan alasan utama yaitu untuk mencari pendapatan tambahan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kegiatan yang dilakukan pada saat marripang yaitu memanen padi. Pekerjaan yang dilakukan oleh kaum laki-laki pada saat marripang umumnya pekerjaan yang lumayan berat, seperti menyabit padi, lalu memasukkan padi yang telah disabit ke mesin penggiling padi, dan mengangkat padi yang telah terkumpul dalam karung kepinggir jalan untuk dijual. Sedangkan pekerjaan yang dilakukan oleh kaum wanita pada saat memanen padi yaitu menyaring kembali sisa batang-batang padi yang masih terdapat padi di dalamnya, lalu memasukkannya ke dalam karung yang sudah tersedia.

Marripang ini mulai jarang dilakukan sekitar pertengahan tahun 2016, di mana pada pertengahan tahun tersebut mulai muncul mesin kangaroo yang bisa disewa oleh para pemilik lahan untuk memanen padi mereka. Para pemilik mesin kangaroo ini biasanya masyarakat yang pada umumnya memiliki kemampuan ekonomi “mencukupi”, dikarenakan harga mesin yang mahal dan mesin tersebut bukan hanya 1 saja, melainkan 2 mesin, yaitu salah satunya mesin yang digunakan untuk menyabit padi dan mesin satu lagi merupakan mesin yang digunakan untuk mengantar padi yang sudah dimasukkan ke dalam goni untuk di pindahkan dari lahan panen ke pinggir jalan untuk dijual ke para agen, atau sering disebut dengan tauke padi….(Berbagai sumber/ISL).

1.461 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *