Seni Budaya Jawa di Sergai

Wilayah Serdang Bedagai yang menjadi kabupaten pemekaran sejak 2003 dengan dasar Undang-Undang No 36 Tahun 2003 kini terdiri dari 17 kecamatan dan 243 desa. Pada awal pemekaran kabupaten ini hanya 11 kecamatan dan belakangan berkembang menjadi 17 kecamatan. Lambat tapi pasti, sejak menjadi status kabupaten di Propinsi Sumatera Utara, segala sarana dan prasarana pembangunan terus dilengkapi dan ditingkatkan. Mulai pendidikan, kesehatan, pariwisata, infrastruktur jalan dan jembatan, serta sarana perkantoran terus dibangun.

Kabupaten Serdang Bedagai banyak dihuni berbagai suku seperti Melayu, Jawa, Batak, Banjar, dan lainnya. Meski berbeda suku namun mereka tetap menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat, dan yang  menjadi modal dasar untuk mewujudkan masyarakat yang hidup rukun, berdampingan, tolong-menolong, tertib, damai dan saling menghargai adalah seluruh penjuru nusantara yang saling menjaga satu sama lain.

Masyarakat bersuku Jawa banyak menempati dan tinggal menetap di kawasan Kabupaten Serdang Bedagai. Mereka berprofesi sebagai petani, pedagang, buruh, pegawai Negeri maupun Swasta, polisi, tentara, guru, dokter, birokrat, politisi, jaksa, dan lain sebagainya. Eksistensi orang Jawa sangat penting. Bahkan pejabat pemerintahan tertinggi maupun pejabat yang memegang posisi strategis lainnya juga banyak yang bersuku Jawa. Seperti bidang perdagangan, perkebunan, transportasi dan perekonomian sebagian juga banyak dipegang orang suku Jawa. Namun demikian, mereka dapat hidup berdampingan dengan etnik suku yang berbeda-beda seperti Batak, Melayu, Cina, Arab dan Bali.

Kehidupan yang harmonis ini harus tetap kita terapkan dan ajarkan kepada penerus bangsa yang ada di Sergai. Interaksi sosial yang terjadi senantiasa menjunjung tinggi semboyan Bhineka Tunggal Ika di Tanah Bertuah Negeri Beradat. Kebudayaan Jawa beserta nilai filosofisnya sangat erat dengan perilaku sehari-hari. Terlebih-lebih sebagai orang rantau, mereka harus bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Kehadiran seni budaya jangan dianggap sebagai hiasan, tempelan, genep-genepan, pelengkap penderita dan asesoris saja. Seni budaya sungguh-sungguh diperlukan oleh orang Jawa di manapun berada. Terbukti masyarakat Jawa di Sergai aktif dalam pengembangan seni budaya warisan leluhurnya. Fenomena budaya yang terdapat dalam masyarakat Sergai pasti mengandung arti mendalam, karena itu pemahaman atas budaya Jawa di Sergai ini menjadi lebih utuh. Disinilah peran seni budaya menjadi lebih bermakna.

Ternyata pecinta budaya Jawa tetap dari kalangan orang tua atau lansia. Seolah-olah mereka rindu pada kebesaran tanah Jawa. selalu diulang-ulang bahwa nenek moyang orang Jawa itu punya tradisi luhur dan peradaban agung. Salah satu contohnya adalah seni gamelan, wayang, reok, serta pertunjukan seni lainnya seperti tari-tarian tradisional tetap menjadi kebanggaan masyarakat Sergai. Karena pertunjukkan seni budaya yang sudah modern sehingga banyak dari kalangan anak-anak maupun pemuda yang mualai menyukainya, Apalagi dalam pertunjukkan kuda lumping atau jaran kepang. Muda-mudi menari jaran kepang. Ditengahnya berjoget barong thok. Disebut barong thok, karena suaranya thok-thok, thok, melonjak-lonjak kegirangan memainkan barong tersebut, ditambah dengan alunan musik yang membuat pertunjukkan yang semakin seru.

Salah satu daerah yang mayoritas 99% adalah suku jawa adalah Kampung Ibus, yang di tetapkan sebagai Kampung Budaya Jawa Sergai terletak di Dusun IX, Kecamatan Sei Rampah. Penetapan Kampung Budaya Jawa ini agar masyarakat tetap melestarikan budaya Jawa yang telah dipegang teguh menciptakan sikap kepribadian, gaya serta prilaku orang Jawa yang menjadi sosok yang simpati, halus, santun, fleksibel dan menyukai keharmonisan.

Disamping itu masayarakat Sergai khususnya orang Jawa banyak yang berprofesi sebagai tani, bertanam padi sambil memelihara ikan darat. Meskipun Sergai dekat dengan kawasan pantai, orang Jawa tetap bertani, tidak mengubah profesi menjadi nelayan.

Nah, itulah sekelumit kisah seni budaya Jawa yang hingga kini masih tetap dilestarikan. Tentunya masih banyak cerita lainnya tentang budaya Jawa. Dan dilain waktu tentu akan kami suguhkan untuk menambah wawasan masyarakat luas. (Berbagai sumber / ISL). 

821 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *