Profil Kecamatan Sei Rampah

Kecamatan Sei Rampah adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dengan ibu kota Kecamatan di Desa Firdaus dengan alamat kantor Jl. Kabupaten. Kecamatan Sei Rampah terletak di Ibukota Kabupaten Serdang Bedagai. Secara astronomis Kecamatan Sei Rampah terletak pada 3°42′-3°54′ dan 99°17′-99°36′ BT. Letak daerah ini cukup strategis, karena berada pada jalur transportasi darat Lintar Timur Sumatera yang menghubungkan pusat-pusat pengembangan wilayah yang ada di Sumatera Utara.

            Batas-batas wilayah Kecamatan Sei Rampah adalah sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Teluk Mengkudu, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Beringin, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Sei Bamban dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Dolok Masihul dan Kecamatan Pegajahan. Topografis tanah di Kabupaten Sergai adalah datar, berbukit dan bergelombang. Jarak ibu kota kecamatan Sei rampah ke kabupaten 0 km (karena berbatasan langsung dengan ibu kota kabupaten Sergai, ke Ibu kota provinsi: 60 Km. Luas wilayah 66,950 Km². Jarak dari kecamatan ke kabupaten/kota lain terdekat: ±15 km, yaitu Kota Tebing Tinggi. Kecamatan Sei Rampah meliputi 17 Desa yaitu: Cempedak Lobang, Firdaus, Firdaus Estate, Pematang Ganjang, Pematang Pelintahan, Pergulaan, Rambung Estate, Rambung Sialang Hilir, Rambung Sialang Hulu, Rambung Sialang Tengah, Sei Parit, Sei Rampah, Sei Rejo, Silau Rakyat, Simpang Empat, Sinah Kasih, Tanah Raja.

 

            Kecamatan Sei Rampah memiliki lapangan olah raga/ gelanggang olah raga. Selain itu juga memiliki sarana peribadatan berupa masjid, mushola, gereja dan vihara, serta sekolah mulai dari PAUD/TK, SD, SLTP, SLTA Madrasah dan lain sebagainya. Sedangkan dalam bidang kesehatan memiliki kurang lebih 37 buah sarana kesehatan. Juga terdapat Gedung pertemuan/wisma/aula yaitu Aula Sultan Serdang dan Pangeran Bedagai di Kantor Bupati Sergai.

            Di Kecamatan Sei Rampah terdapat 1 sungai yaitu Sungai Rampah dan 2 buah danau. Kecamatan Sei Rampah terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdang Bedagai di Provinsi Sumatera Utara (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4346 tanggal 18 Desember 2003.

            Sei Rampah berasal dari bahasa Indonesia berarti Sungai Rempah-rempah. Sei = Sungai Rampah=Rempah-rempah (Sebuah sungai yang membelah wilayah kecamatan). Nama Sei Rampah berasal dari sebuah sungai yang berfungsi sebagai sarana transportasi oleh para pedagang yang terutama berdagang jual beli rempah-rempah.

            Zaman dahulu di tepi Sungai Bedagai banyak tumbuh pohon-pohonan penghasil rempah, seperti: kemiri, pala, lada dan cengkeh. Penduduk kampung sekitarnya tak perlu bersusah payah bekerja, mereka cukup menanti saat berbuahnya pepohonan di tepi sungai itu untuk kemudian memanen dan menjualnya kepada pedagang yang datang. Banyak saudagar manca negara diantaranya dari Persia, Gujarat, Mesir, Cina dan Malaka. Mereka melakukan perdagangan sambil bertukar informasi dan pengetahuan yang banyak menguntungkan penduduk. Dari pertemuan dan tukar menukar informasi itu, sebagian penduduk yang berfikiran maju, mengembangkan penanaman pohon penghasil rempah-rempah hingga jauh ke dalam hutan.

            Di samping tumbuh pepohohan penghasil rempah-rempah, di hutan sekitar kampung banyak pula hidup binatang liar, seperti: Gajah, Beruang dan harimau. Antar penduduk dan binatang liar hidup rukun tidak saling mengganggu. Sampai suatu hari, berlabuhlah sebuah kapal dari india, mereka datang bukan untuk berdagang rempah-rempah, tetapi khusus untuk berburu gading gajah, kuku beruang dan kulit harimau yang mahal harganya. Beberapa penduduk mereka ajak berburu ke hutan, yang hasilnya sangat banyak dan menguntungkan.

            Ia memberi upah yang sangat besar kepada penduduk, serta menyuruh penduduk berburu kembali, dan mereka berjanji dalam waktu dekat akan kembali dengan kapal yang lebih besar untuk membeli hasil buruan penduduk. Karena kapal yang akan datang lebih besar, penduduk di minta untuk menebangi pohon agar kapal tesebut bisa berlabuh.

            Kini penduduk hulu Sungai Bedagai terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dipimpin Usman yang ingin tetap mempertahankan keutuhan pohon yan ada di tepi sungai dan tidak membenarkan perburuan. Kelompok kedua dipimpin Bedogol yang ingin cepat kaya, keduanya sangat berbeda pendapat.

            Hanya berselang beberapa tahun saja perbedaan antara kedua kelompok tampak dengan jelas, kampung hulu yang dipimpin Usman kelihatan bangunan rumah mereka sangat sederhana dengan pemandangan asri, hijau subur, dipenuhi tumbuhan penghasil rempah dan binatang bebas berkeliaran didalamnya. Sementara kampung hilir yang dipimpin bedogol kelihatan bangunan rumah mereka sangat mewah tapi gersang tandus tanpa pepohohan dan binatang-binatang didalamnya, sebab telah habis ditebang dan diburu.

            Di saat musim penghujan, air sungai meluap dan mengikis pinggiran sungai yang gersang tanpa akar pepohonan sebagai benteng pertahanan, hingga semua pemukiman penduduk yang ada di tepi sungai terendam banjir. Perkampungan yang dipimpin Usman selamat dari terjangan air, sebab pepohohan yang mereka pertahankan keberadaannya di tepi sungai menjadi benteng penahan arus deras sementara kelompok Bedogol desanya hancur akibat terjangan arus dan erosi sungai yang tak terbendung akibat tak adanya akar dari pepohonan yang menahan karena habis ditebang.

            Dengan penuh kesadaran dan penyesalan, kelompok bedogol kembali kekampung hulu dan bersatu dengan kelompok Usman yang menanam kembali pepohonan penghasil rempah di tepi sungai dan kemudian melanjutkan penanamannya di hutan sekeliling kampung. Setelah kelompok Usman dan Bedogol bersatu, kampung hulu sungai menjadi kampung terkenal sebagai kampung penghasil dan perdagangan rempah-rempah. Hulu sungai mereka banyak didatangi pedagang-pedagang rempah rempah baik dalam negeri maupun luar negeri.

            Sejak saat itu hulu sungai bedagai berubah menjadi sebuah bandar pusat perdagangan rempah-rempah, dan karena bandar rempah itu berada di tepi sungai, maka dinamakan oranglah Bandar Sungai Rempah, dan sekarang ini dinamakan orang Sei Rampah…(Sumber : Buku Serdang Bedagai Kampung Kami/ISL).

10.732 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *