Memanfaatkan TTM Sawit Sebagai Bahan Baku Gula Merah

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Kelapa sawit juga merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang cukup penting sebagai penghasil devisa negara sesudah minyak dan gas.

            Banyaknya lahan perkebunan tanaman kelapa sawit yang sudah tidak menghasilkan atau istilahnya tanaman tidak menghasilkan (TTM) atau memasuki tahap peremajaan menjadi salah satu kekuatan bagi usaha industri rumah tangga gula merah dari nira kelapa sawit. Batang sawit dapat menghasilkan nira sawit untuk dijadikan gula merah yang memiliki nilai ekonomi.

            Gula merah dari nira sawit memiliki potensi nilai ekonomi yang cukup besar selain untuk membantu biaya hidup atau pendapatan petani selama sawit masih dalam masa belum menghasilkan. Inovasi usaha pengolahan gula merah dari air nira batang kelapa sawit ini masih baru di lakukan mulai tahun 2015 di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dengan skala rumah tangga (kecil).

            Penyadapan nira kelapa sawit dari TTM ini ada dua cara yaitu pertama mengiris tangkai bunga yang seludangnya belum membuka. Nira yang dihasilkan dari cara penyadapan ini memiliki aroma dan rasa yang khas, namun jumlah yang dihasilkan sedikit. Cara kedua penyadapan nira dapat dilakukan setelah pohon ditumbang selama 3 – 7 hari. Pohon kelapa sawit yang tumbang menghasilkan rata-rata 3,4 – 146,7 liter dengan kadar gula 8 – 19,1 %. Banyaknya nira yang dihasilkan bergantung pada besarnya pohon yang disadap

            Usaha pengolahan nira kelapa sawit menjadi gula merah ada sebanyak 96 unit usaha di Kabupaten Serdang Bedagai, dengan kapasitas produksi 400-1000 kg/unit usaha/hari, sehingga jika di perhitungkan per hari industri gula merah sawit ini sudah mampu berproduksi rata-rata 41,6 ton gula merah sawit.

            Ini merupakan angka produksi yang potensial untuk dikembangkan. Unit usaha gula merah sawit hanya berproduksi 2-3 kali dalam seminggu tergantung permintaan pasar. Para pengrajin gula merah sawit tidak berani memproduksi setiap hari karena terbatasnya modal dan informasi pasar.

            Gula merah sawit yang diproduksi di Kabupaten Serdang Bedagai ukurannya rata-rata 250 gram per biji, tidak jauh berbeda dengan gula merah lainnya termasuk aren. Harga gula merah kelapa sawit ini dari petani pengrajin rata-rata Rp.12.000 per kilo gram. Sebagai modal awal memulai usaha gula merah sawit, seorang pengrajin harus memiliki atau membeli batang kelapa sawit yang sudah ditebang (memasuki masa replanting), seharga Rp 60,000 – Rp 75.000 per batang diluar biaya inventasi lainnya yang meliputi kuali besar, tungku, meja cetakan dan sebagainya.

            Masyarakat pada umumnya lebih mengenal gula merah yang terbuat dari nira tanaman aren dan masih sangat sedikit masyarakat yang mengetahui bahwa gula merah juga dapat diolah dari nira kelapa sawit, padahal kualitas gula merah yang dihasilkan tidak jauh berbeda. Ini mengakibatkan harga gula merah dari kelapa sawit lebih rendah dibandingkan gula merah aren di pasaran. Gula merah sawit diperkenalkan sebagai gula aren nomor dua. Tantangan yang dihadapi oleh agroindustri gula merah kelapa sawit adalah strategi pemasaran produk yang terbatas hanya di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Serdang Bedagai dan Kota Medan juga beberapa daerah yang berdekatan dengannya, pembuatan produk berdasarkan pesanan, produsen bertindak sebagai penerima harga.

            Ada beberapa pola pemasaran yang terlibat dalam pemasaran gula merah sawit dari produsen atau pengrajin hingga ke konsumen. Pada umumnya pedagang pengumpul desa sudah mempunyai pengrajin langganan. Pedagang pengumpul desa datang ke rumah pengrajin secara berkala dua atau tiga hari sekali…..(dikutip dari berbagai sumber/ISL).

6.486 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *