Seni Budaya di Tanah Bertuah

            Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dikenal sebagai kabupaten yang memiliki masyarakat pluralistik. Hal ini dikarenakan Sergai memiliki komponen masyarakat dari berbagai agama, ras, suku dan golongan. Sebagai kabupaten yang terdiri dari multi etnis dan multikultural, dapat dipastikan bahwa banyak kebudayaan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Kabupaten Sergai.

            Kebudayaan yang hidup dan berkembang di masyarakat Sergai merupakan aset yang memperkaya khasanah kebudayaan di dalam kehidupan masyarakat Sergai. Kebudayaan di Sergai sangat beragam. Sebagai kabupaten yang multi etnis dan multikultural, Kabupaten Sergai menyimpan banyak tradisi dan kebudayaan, maupun kesenian tradisional yang terus tumbuh dan hidup di dalam masyarakatnya.

Tradisi dan kebudayaan tersebut antara lain; Upacara Jamu Laut, yang merupakan upacara tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat Melayu Serdang. Upacara jamu laut telah menjadi tradisi yang dilakukan sejak zaman pra Islam. Awalnya, upacara jamu laut bertujuan untuk memberikan persembahan kepada penunggu laut atau yang biasa disebut dengan istilah ‘jimbalang’ atau ‘mambang laut’.

Berikut kebudayaan/seni tradisional yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai antara lain;

1. Festival Tari Serampang Dua Belas

Festival Tari Serampang Dua Belas yang diadakan oleh Pemkab Sergai merupakan festival yang mengangkat warisan budaya Melayu. Festival Tari Serampang Dua Belas dilaksanakan sebagai upaya untuk melestarikan budaya lokal agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman. Festival ini juga diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi dan rasa bangga terhadap Alm. Guru Sauti, seorang maestro seni asli Sergai yang sangat berjasa melahirkan dan mengembangkan Tari Serampang Dua Belas hingga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tahun 2014 oleh pemerintah. Festival ini merupakan festival tahunan yang dilaksanakan di halaman Replika Sultan Serdang Keluarahan Melati Kebun Kecamatan Pegajahan.

2. Reog

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur. Reog masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat. Reog biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar nasional. Seni reog terdiri dari beberapa tarian. Tarian pertama dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.

Di Kabupaten Sergai, kesenian reog dikembangkan di Desa Nagori Kecamatan Sipispis. Aksi reog ini pula pernah digelar di wisata Pantai Cermin sebagai bentuk pelestarian kebudayaan dan menambah daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke daerah wisata Kabupaten Sergai.

3. Kuda Lumping

Kuda lumping adalah kesenian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit yang tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang dianyam. Biasanya tarian ini juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan dan kekuatan magis seperti atraksi makan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Meskipun, tarian ini berasal dari Jawa, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara termasuk di Kabupaten Sergai.

4. Wayang Kulit

Wayang kulit merupakan seni tradisional yang berkembang di Jawa. Wayang kulit merupakan jenis pertunjukan seni yang dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi musik gamelan yang dimainkan oleh sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden.

5. Kenduri

Kenduri berarti perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, meminta berkah dan sebagainya (menurut KBBI). Dalam praktiknya, kenduri merupakan sebuah acara berkumpul, yang umumnya dilakukan oleh laki-laki, dengan tujuan meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari sang penyelengara yang mengundang orang-orang sekitar untuk datang yang dipimpin oleh orang yang dituakan atau orang yang memiliki keahlian dibidang tersebut misalnya kyai.

Di Kabupaten Sergai, acara kenduri dilaksanakan oleh hampir sebagian besar masyarakatnya. Masyarakat yang memiliki hajat, senantiasa melaksanakan acara kenduri di kediamannya dengan mengadakan acara makan dan doa bersama masyarakat sekitar dengan harapakan agar senantiasa mendapat keberkahan terhadap hajat yang dituju.

6. Tradisi Aruh Banjar; Perayaan Maulid Nabi Mayarakat Suku Banjar Sergai

Acara kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW Tradisi Aruh Banjar yang telah berjalan turun temurun dan dilaksanakan secara bergilir dimaksudkan untuk membesarkan syiar Islam dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Acara aruh banjar biasanya dilaksanakan di mesjid, beberapa lokasi kegiatan maupun di rumah-rumah warga. Tradisi aruh banjar sangat terbilang unik dan hikmat karena melibatkan banyak pihak dan ada tradisi jamuan makan yang terbilang unik. Untuk menikmati hidangan disediakan 1 (satu) talam untuk 4 (empat) orang. Hal ini dimaknai kebersamaan dan mempererat persaudaraan.

7. Kebudayaan Masyarakat di Kampung Bali Pegajahan

Di Kabupaten Sergai terdapat sebuah kampung dimana semua orang dapat merasakan suasana kehidupan masyarakat Hindu Bali. Kampung Bali terletak di Desa Pegajahan Kecamatan Pegajaha. Di Kampung Bali ini bermukim komunitas etnis Bali yang masih taat akan tradisi. Di Kampung Bali berdiri sebuah Pura yang diberi nama Pura Panataran Dharmaraksaka yang berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat Hindu Bali di desa tersebut.

Pura Panataran Dharmaraksaka ini ramai dikunjungi setidaknya dua kali dalam sebulan bagi umat Hindu Bali untuk beribadah pada waktu Purnama dan Tilem (Bulan Gelap).

Keunikan kampung Bali yang ada di Desa Pegajahan ini merupakan daya tarik bagi wisatawan yang datang untuk mengunjungi tempat ini karena kampung Bali ini dapat dikatakan sebagai tempat wisata budaya yang sangat bermanfaat bagi masyarakat.

8. Barongsai

Barongsai adalah tarian tradisional Cina dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa. Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad ke-17, ketika terjadi migrasi besar dari tiongkok selatan.

Tarian barongsai dilakukan untuk mengusir roh-roh jahat. Roh-roh jahat ini dapat disamakan dengan aura buruk. Sepanjang pertunjukan, singa meniru berbagai suasana hati serta menunjukkan gerakan fisik sehingga singa terlihat hidup dengan gerakan tersebut. Tarian barongsai menggabungkan seni, sejarah serta gerakan kungfu.

Di Kabupaten Sergai sendiri, kesenian tari barongsai dapat disaksikan di pagelaran seni budaya maupun acara keagamaan agama Budha. Pada perayaan Tahun Baru Imlek, barongsai menjadi sebuah pertunjukan yang dinantikan oleh masyarakat. Antusias yang tinggi dari masyarakat Sergai terhadap kesenian barongsai menunjukkan bahwa akulturasi budaya sangat dihormati di Sergai.

Nah itulah beberapa pesona kebudayaan yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai, tentunya bukan hanya ini saja. Masih banyak kebudayaan lainnya yang bisa kita temui di sini….(dikutip dari berbagai sumber/ISL)

3.331 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *