Tanaman Tradisional bagi Masyarakat Melayu Serdang Bedagai dan Dimensi Sosiologisnya

(Bagian IX)

Haiii… sobat Ini Sergai Loh (ISL) yuk kita lanjutin kita kepoin informasi tentang tanaman obat yang bisa kita manfaatkan dan tentunya berkhasiat.

Halia

Halia (Latin: Zingiber officinale) adalah salah satu rempah berbentuk rimpang yang mudah ditemui di pasar tradisional. Halia merupakan tanaman asli Indonesia.  Halia dipercaya oleh masyarakat Melayu memiliki khasiat untuk kesehatan antara lain: menjaga kondisi jantung, mengatasi mabuk perjalanan, mengatasi gangguan pencernaan, dan juga bisa digunakan pada bagian tubuh yang bengkak. Halia juga dikonsumsi dalam bentuk air seduhan dan jamu untuk menghangatkan tubuh, oleh karena itu banyak industri yang menghasilkan halia yang dikemas berbentuk produk seperti kopi halia atau wedang halia bermerek.

Halia bukan saja sebagai tanaman obat yang berkhasiat. Halia juga digunakan untuk bumbu masakan atau sebagai rempah-rempah dalam masakan yang bercorak khas budaya Melayu seperti, bubur pedas, gulai lemak, gulai masam, dan sebagainya.

Halia adalah salah satu rempah berbentuk rimpang yang mudah ditemui di pasar tradisional Indonesia dengan berbagai varietas seperti:

  1. Halia Gajah: Dinamakan seperti demikian karena bentuk rimpang yang besar namun rasa yang dihasilkan tidak terlalu pedas layaknya halia jenis lain. Daging halia berwarna kuning hingga putih. Halia gajah atau halia badan merupakan varian halia yang banyak diminati oleh masyarakat dunia.
  2. Halia Kuning: Merupakan jenis halia yang lebih sering dijadikan bumbu masakan untuk masyarakat lokal. Hasil masakan yang diberi bumbu halia akan memberikan aroma dan rasa yang cukup tajam. Ukuran rimpang lebih kecil dibanding halia gajah dan berwarna kuning.
  3. Halia Merah: Halia jenis ini menyimpan kandungan minyak atsiri paling banyak dibanding jenis lain, karena rasanya yang pedas, halia merah banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan jamu dan obat.

Cekur

Cekur (Latin: Kaempferiagalanga L.) memiliki jumlah helai daun tidak lebih dari 2-3 lembar dengan susunan berhadapan. Cekur tumbuh menggeletak di atas permukaan tanah. Bunga majemuk tersusun dengan kuntum bunga berjumlah antara empat sampai 12 buah. Cekur memiliki rasa getir dan pedas itu.

Cekur yang berpotensi sebagai tanaman obat dipercaya oleh masyarakat Melayu memiliki khasiat yang luar biasa dalam tatanan dimensi ideologis antara lain: Air perahan cekur bisa digunakan untuk menyembuhkan bagian tubuh yang bengkak, keseleo, terkilir, sakit dada dan perut, gangguan haid, dan melancarkan aliran darah. Selain itu cekur dapat dicampur untuk bahan ramuan membuat jamu, ataupun sebagai bahan campuran pada pembuatan peluntur “param‟.

Cekur sebagai peluntur dapat digunakan untuk wanita yang baru melahirkan untuk  menghilangkan rasa lelah, pegal-pegal, dan dapat membuat tubuh terasa hangat. Cekur juga dapat digunakan untuk hal kebiasaan atau tradisi budaya Melayu. Di antaranya cekur dapat dipatam “dipilis” ke daerah kening kepada anak yang terkena flu, sebab masyarakat Melayu memercayai dengan cara ini paling mujarab menyembuhkan penyakit flu. Selain itu bisa juga dipatam pada anak yang menderita sakit demam ataupun pada anak yang keteguran „anak yang selalu menangis disebabkan diganggu oleh makhluk halus‟, cekur bisa dipatam di kening anak tersebut.

Biasanya yang mematamkan cekur di kening anak adalah orang yang bergelar tengku, sebab orang yang bergelar tengku ini merupakan gelar yang tertinggi dari pada gelar lainnya di antara kebangsawanan. Anak yang menderita penyakit diare ataupun masuk angin juga bisa diobati dengan daun cekur ini. Daun cekur ini dilemaskan dengan cara diganggang “dibakar dengan api yang sangat kecil untuk melemaskan daun”, setelah diganggang daun cekur ini diolesi minyak makan. Kemudian daun cekur yang sudah lemas di tapal dilengketkan di atas perut.

Daun cekur ini juga sering digunakan pada anak yang baru lahir untuk ditapal, Masyarakat Melayu memercayai perut si bayi menjadi kuat dan tua. Kebiasaan atau tradisi ini berlangsung secara berkesinambungan yang ditransfer dari generasi ke generasi. Cekur bukan saja sebagai obat dalam berbagai penyakit. Cekur juga digunakan untuk bumbu masakan atau sebagai rempah-rempah masakan. Bahan rempah-rempah dalam makanan, masakan, dan kuliner selalu menggunakan cekur, seperti, bubur pedas, gulai lemak, gulai asam, dan sebagainya.

Cekur tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Tumbuhan cekur ini tumbuh dengan baik pada musim hujan. Cekur baik ditanam dalam pot atau di kebun yang cukup sinar matahari dan tidak terlalu basah. Cekur memiliki nama lain “curcuma”. Curcuma adalah genus dari 80 spesis dari keluarga tumbuhan Zingiberaceae yang diterima dari spesies cekur. Nama Curcuma berasal dari Bahasa Arab “kurkum” مككر bermakna “Kunyit”.

Diantaranya: 1) Curcuma aeruginosa, 2) Curcuma albicoma, 3) Curcuma albiflora, 4) Curcuma alismatifolia, 5) Curcuma amada, 6) Curcuma amarissima, 7) Curcuma angustifolia, 8) Curcuma aromatica Salisb, 9) Curcuma attenuate, 10) Curcuma aurantiaca, 11) Curcuma australasica, 12) Curcuma bakeriana, 13) Curcuma bicolor, 14) Curcuma bhatii, 15) Curcuma    burttii, 16) Curcuma caesia, 17) Curcuma ceratotheca, 18) Curcuma chuanezhu, 19)Curcuma chuanhuangjiang, 20) Curcuma chuanyujin, 21) Curcuma cochinchinensis, 22) Curcuma codonantha, 23) Curcuma coerulea, 24) Curcuma colorata, 25) Curcuma comosa, 26) Curcuma coriacea, 27) Curcuma decipiens, 28) Curcuma domestica, 29) Curcuma ecalcarata, 30) Curcuma euchroma. (Berbagai sumber /ISL).

13.103 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *