Di Tengah Modernisasi, Tradisi Aruh Maulud Banjar Tetap Terpelihara

Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) memiliki ragam suku dan budaya. Dari beragam suku dan budaya tersebut antara lain; suku Jawa, Batak, Melayu, Banjar, Bali dan suku lainnya yang hidup  berdampingan namun tetap rukun.

Salah satu suku yang mendiami Kabupaten Tanah Bertuah Negeri Beradat melaksanakan kegiatan keagamaan dan memiliki ciri khas adalah Suku Banjar. Warga Suku Banjar khususnya di Desa Lubuk Cemara Kecamatan Perbaungan kerap menggelar Kenduri Maulid atau yang dikenal dengan Aruh Mulud untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dalam peringatan ini, ragam penganan khas Banjar pun dihidangkan. Sembari menikmati berbagai makanan khas Banjar, kegiatan ini juga bertujuan untuk mempererat silaturahmi serta diselingi bersama kegiatan ceramah agama.

Dilansir dari Republika.co.id, jika tradisi ini adalah khas asli masyarakat Banjar dari Kalimantan Selatan yang sudah puluhan tahun bermigrasi dan tinggal di daerah khususnya Desa Lubuk Cemara Kabupaten Serdang Bedagai.

Tentu masyarakat punya alasan dalam mempertahankan dan melestarikan tradisi Aruh Banjar ini yaitu agar tidak kehilangan identitas budaya. Oleh karenanya, setiap peringatan hari besar umat Islam, khususnya Maulid Nabi maka acara ini akan digelar. Tak hanya Suku Banjar saja yang menghadiri, namun dalam kegiatan itu juga mengundang suku lainnya seperti Melayu, Jawa dan Batak, guna semakin mempererat silaturahim.

Biasanya acara dilaksanakan pagi menjelang Zuhur. Terlebih dahulu pada pagi harinya dilakukan sarapan dengan dibagi dari masing masing rumah minimal delapan orang sampai 12 orang, dimana seti

Sedangkan ragam menu yang dihidangkan merupakan makanan khas Banjar seperti ampal hitam, ampal putih, sayur nanas serta kuliner khas nusantara seperti ayam bakar dan sop kaki sapi yang dibuat dari sumbangan beberapa keluarga yang bersedia menjadi tuan rumah.

Masih dilansir dari laman yang sama, Warga Banjar Bernama Siti Ratila menyampaikan bahwa kuliner yang ada di acara Aruh Mulud atau kenduri Maulud tentu saja yang dihadirkan itu adalah masakan masakan khas Banjar.

Tradisi yang tetap terjaga

Mengutip dari laman Merdeka.com, Tradisi Aruh Mulud ini merupakan kegiatan diminati oleh semua kalangan, mulai dari anak muda hingga orang tua. Tradisi ini berawal dari banyaknya orang Banjar yang tinggal di Sumut dan tinggal secara terpisah. Mereka ingin menjalin silaturahmi dan menjaga identitas mereka agar tidak hilang.

Aruh Banjar dihadiri Bupati Sergai

Belum lama ini, tepatnya bulan Oktober 2022 lalu, Bupati Serdang Bedagai H Darma Wijaya  didampingi Ketua TP PKK Ny Hj Rosmaida Darma Wijaya menghadiri gelaran Aruh Maulud Banjar (Maulid Nabi Muhammad SAW) di Masjid Jami Dusun I Desa Lubuk Cemara Kecamatan Perbaungan.

Bupati Sergai H Darma Wijaya menyambut positif kegiatan ini, karena mengandung nilai-nilai keagamaan meski kita hidup dalam kehidupan yang modern. Akan tatapi, Ia berharap kegiatan ini tetap menjunjung tinggi budaya sekaligus merajut kebersamaan lewat silaturahmi.

“ Mewujudkan masyarakat Sergai yang religius lewat berbagai kegiatan, salah satunya kegiatan seperti ini. Tentu kami sangat mendukung karena sejalan dengan visi Kabupaten Tanah Bertuah Negeri Beradat yang mandiri, sejahtera dan religius. Ini sangat positif sebab tetap menjunjung tinggi budaya yang harus tetap dilestarikan sekaligus merajut kebersamaan,” kata Bupati.

Bupati juga menyampaikan harapannya agar kegiatan serupa ini dibuat oleh seluruh masyarakat suku Banjar yang ada di Sergai sehingga lebih besar dan meriah. Hal ini supaya suku Banjar tidak kehilangan identitas budayanya. Oleh karenanya Aruh Maulud Banjar harus terus dilestarikan. (Berbagai sumber/ISL).

823 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *