Melestarikan Kuliner Melayu di Tanjung Beringin  

            Setiap daerah memiliki kuliner khas daerahnya masing-masing. Kuliner tersebut mempunyai nilai-nilai tersendiri yang dipengaruhi oleh keadaan lingkungan masyarakatnya. Keadaan lingkungan juga mengakibatkan keragaman kuliner setiap kelompok masyarakat. Mulai dari alat, bahan, hingga proses pembuatannya. Oleh karena itu, kuliner tiap-tiap daerah merupakan suatu citra bagi kelompok masyarakat di daerah masing-masing.

            Sama halnya dengan kuliner yang ada di Kecamatan Tanjung Beringin, terdapat beberapa leksikon tumbuhan yang menjadi bahan olahan suatu kuliner, misalnya bawang pindang sebagai rompah (bumbu) dalam pembuatan ikan pindang. Namun, karena mulai punahnya tumbuhan ini, bawang inipun diganti dengan bawang biasa sehingga leksikon ini mulai tidak diketahui masyarakat di lingkungan ini.

            Kecamatan Tanjung Beringin merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). Kabupaten ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Deli Serdang. Kecamatan Tanjung Beringin merupakan daerah pesisir yang masyarakanya merupakan suku Melayu. Selain suku Melayu yang merupakan suku asli di Kecamatan Tanjung Beringin, terdapat suku-suku lain yang mendiami daerah ini yaitu seperti suku Batak, Jawa, dan Mandailing.

            Khazanah kuliner terbagi atas dua kelompok, yaitu kelompok masakan utama (main course) dan kelompok masakan selingan (appetizer/dessert). Masakan utama pada masyarakat Melayu di Desa Pekan Tanjung Beringin merupakan hidangan utama yang disajikan pada waktu pagi, siang, dan malam. Jenis makanan tersebut seperti tempoyak (terbuat dari durian yang diperam, sebagai asam yang dimasak dengan sambal), ikan botok (ikan yang diperam dan ditambah dengan bumbu-bumbu lain seperti daun sikontut dan daun bebuih), panggang bantut (ikan panggang yang dibelah perutnya dan diisi dengan rempah), anyang pakis (anyang pakis), dan lain sebagainya, sedangkan masakan selingan bukan merupakan menu utama yang dihidangkan pada waktu luang untuk menghilangkan rasa lapar sesaat.

            Jenis makanan ini seperti lempeng torak (lempeng torak), dangai (kue dange), kue banda (kue banda), bubur podas (bubur pedas), halwa botik (manisan buah papaya), pongat (kolak), dan sebagainya. Kuliner Melayu yang ada di Kecamatan Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai khususnya di Desa Pekan Tanjung Beringin hampir sama dengan kuliner Melayu pada umumnya. Hanya saja terdapat perbedaan antar leksikon alat, bahan, dan cara pengolahannya. Misalnya pada kuliner bubur podas, di desa ini bahan yang digunakan dalam pembuatan bubur podas hanya sedikit dibandingkan dengan bubur podas yang ada di Tanjung Balai.

            Kuliner bubur podas mendominasi semua leksikon bumbu dapur dan leksikon bahan dasar olahan kuliner anyang. Dengan tambahan daun si kontut (Paederia Foetida) membuat bubur podas menjadi andalan betapa kayanya leksikon bumbu dapur masyarakat Melayu. Adanya leksikon daun mengkudu ‘daun pace’ (Morinda citrifolia L); daun tapak leman ‘daun mangkok’ (Elephantopus scaber); daun ubi ‘daun singkong’ (cassava leaves); kangkung (Ipomoea aquatica); kol (Brassica oleracea var. Capitata); daun pegago ‘pegagan’ (centellaasiatica); kacang panjang (Vigna unguiculata ssp. Sesquipedalis); pisang abu mongkal ‘pisang kepok mengkal’ (Musa acuminate balbisiana; jagung (Zea mays); toge ‘tauge’ (Phaseolus aureus); buncis (Phaseolus vulgaris); ubi rambat ‘ubi jalar’ (Ipomoea batatas); ubi kayu ‘singkong’ (Manihot esculenta); labu lomak ‘labu kuning’ (Cucurbita moschata); kaladi ‘talas’ (Colocasia esculenta); labu air (Lagenaria siceraria); jipang ‘labu siam’ (Sechium edule); wortel (Daucus carota); timun (Cucumis sativus); mi kuning; Sotong (Teuthida); Ikan tongkol (Euthynnus affinis); Ikan temonong ‘ikan gembung’ (Rastrelliger); Ikan cincaro ‘cincarau’ (Megalaspis cordyla); dan Ikan ogak ‘sarden’ ‘Sardinella Aurita’ menjadikan kuliner bubur podas sangat baik untuk kesehatan.

            Masyarakat Melayu Pesisir Timur Sumatera umumnya mengonsumsi jenis kuliner ini terutama pada bulan Ramadhan. Sama halnya di Desa Pekan Tanjung Beringin yang biasanya dilaksanakan di Masjid Jamik Ismailiyah di Desa Pekan Tanjung Beringin. Ketidaktahuan masyarakat terhadap leksikon kuliner khas sukunya bisa diakibatkan karena hilangnya beberapa leksikon lingkungan alam maupun budaya yang ada.

1.223 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *