Sinergi Warga Karo dan Melayu di Desa Kuala Lama, Sergai

Desa Kuala Lama merupakan desa pesisir yang berada di Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). Penduduk asli Desa Kuala Lama adalah etnik Melayu, dan saat ini merupakan populasi mayoritas. Mereka hidup berdampingan dengan para perantau Karo yang berasal dari Gunung Meriah, Tiga Juhar dan Patumbak Kabupaten Deli Serdang. Migrasi orang Karo ke Desa Kuala Lama berlangsung pada akhir tahun 1960-an.

Saat itu, di kampung halaman mereka terjadi penangkapan dan pembantaian terhadap orang-orang yang terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI). Konflik politik inilah yang menyebabkan banyak orang Karo meninggalkan kampung halaman. Mereka terpaksa pindah ke Desa Kuala Lama supaya tidak dituduh sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia. Ketika orang Karo berpindah ke Desa Kuala Lama, pendudukya masih sangat jarang dan masih banyak hutan, karenanya mereka mudah diterima oleh orang Melayu untuk tinggal di desa tersebut.

Keputusan orang Karo memilih Desa Kuala Lama sebagai daerah rantau tampaknya dipengaruhi oleh kesediaan masyarakat tuan rumah, suku Melayu, menerima kehadiran kaum pendatang dan mengijinkan mereka menggunakan lahan untuk membangun tempat tinggal dan bercocok tanam.

Saat ini, orang Karo yang menetap di Desa Kuala Lama mencapai kurang lebih seratus lima puluh kepala keluarga. Sebagian besar dari mereka merupakan generasi kedua dan ketiga. Meskipun begitu, mereka masih mengingat kampung asalnya. Bahkan mereka masih bisa berbahasa Karo, tetap memakai nama-nama merga Karo dan menjalankan adat Karo sebagai sumber norma dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kegiatan-kegiatan adat dalam kehidupan sehari-hari biasanya dibatasi pada upacara-upacara siklus kehidupan yang utama, seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian.

Masyarakat Karo di Desa Kuala Lama melaksanakan kegiatan-kegiatan adat di jambur (tempat pertemuan) yang dibangun pada tahun 2007. Sebelum ada jambur, kegiatan-kegiatan adat biasanya dilakukan di rumah-rumah warga. Pemakaian nama-nama merga, menjalankan adat Karo dan berbahasa Karo dalam kehidupan sehari-hari merupakan usaha perantau Karo untuk mempertahankan identitas etniknya. Para perantau Karo tampaknya berusaha membentuk citra diri sebagai kelompok etnik tersendiri dan berbeda dengan kelompok etnik Melayu sebagai masyarakat tuan rumah di Desa Kuala Lama.

Bahkan perantau Karo yang menikah dengan orang Melayu tidak menanggalkan nama merga-nya, tetap mengikuti kegiatan-kegiatan adat Karo, dan memakai bahasa Karo saat berkomunikasi dengan sesama orang Karo. Perkawinan antar etnik itu hanya menjadikan sebagian perantau Karo sebagai penganut agama Islam. Berbeda dengan kebanyakan perantau Karo yang menganut agama Katolik.

Namun, agama bukan sebagai kriteria yang tegas dalam menentukan identitas Karo. Orang Karo tidak secara merata memeluk satu agama utama, karena itu solidaritas etnik sangat kuat di kalangan mereka. Dengan demikian, keberagaman agama tidak mengubah citra diri orang Karo sebagai satu kelompok etnik.

Namun solidaritas dan kerja sama antara orang Karo dan Melayu terjalin dengan baik. Kerjasama yang dilakukan antara masyarakat etnik Karo dengan masyarakat etnik Melayu dilakukan dari berbagai macam sektor seperti pertanian, perairan dan pengelolaan wisata, hubungan sosial masyarakat.

Fakta ini semakin menguatkan status Sergai sebagai miniatur Indonesia karena di dalamnya hidup berbagai etnis. Tidak hanya tinggal bersama namun masing-masing dari unsur etnis tersebut saling bekerja sama dan mendukung dalam bingkai kebhinekaan. Sangat jarang jika tidak bisa dikatakan tidak ada konflik horizontal yang terjadi antar masyarakat di Sergai. Selain kemampuan dari para tokoh masyarakat untuk meredam gejolak konflik, sinergi antar etnis sudah terjalin lama dan terawat baik……(Dikutip dari berbagai sumber). 

1.550 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *