Ragam Manfaat dari Kelapa Sawit

Kelapa sawit merupakan salah satu tumbuhan industry yang sangat penting. Halk ini karena kelapa sawit memiliki banyak manfaat, salah satunya dapat menghasilkan minya nabati yang banyak dibutuhkan oleh orang banya,

Sebagai salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, kelapa sawit juga merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang cukup penting sebagai penghasil devisa negara sesudah minyak dan gas.

Dilansir dari http://djpen.kemendag.go.id/ jika perkebunan kelapa sawit di Indonesia merupakan yang terluas di dunia. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara pengekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO : crude palm oli) dan berbagai olahannya.

CPO sendiri merupakan bahan baku industri pembuatan minyak goreng, margarin, lilin, sabun, berbagai produk perawatan tubuh dan kecantikan, hingga pembuatan biodiesel yang banyak diproduksi di Uni Eropa terutama di negara Jerman.

Namun saat ini perkebunan kelapa sawit sudah banyak yang tidak menghasilkan lagi. Masyarakat mengistilahkan dengan tanaman tidak menghasilkan (TTM) atau memasuki tahap peremajaan.

Kehadiran pohon kelapa sawit yang tak berproduksi ini menjadi peluang bagi masyarakat. Sebagain dari mereka menjadikannya sebagai bahan baku untuk industri usaha rumah tangga  berupa pembuatan gula merah dari nira kelapa sawit. Batang sawit dapat menghasilkan nira sawit untuk dijadikan gula merah yang memiliki nilai ekonomi.

Gula merah dari nira sawit memiliki potensi nilai ekonomi yang cukup besar selain untuk membantu biaya hidup atau pendapatan petani selama sawit masih dalam masa belum menghasilkan. Inovasi usaha pengolahan gula merah dari air nira batang kelapa sawit ini masih baru di lakukan mulai tahun 2015 di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dengan skala rumah tangga (kecil).

Mengutip pernyataan Juardi warga Desa Sukasari Kecamatan Pegajahan dari laman Infosawit.com mengatakan berawal dari 10 tahun lalu saat hendak mencari umbut sawit untuk dijadikan sayuran.

“Waktu itu saya lihat ada sejumlah pihak yang menebangi pohon sawitnya, jadi saya mau minta umbutnya untuk dijadikan sayur,” kata Juardi mengutarakan.

Juardi bersama keluarganya memang sudah paham bagaimana mengelola umbut sawit sehingga bisa dikonsumsi menjadi sayuran. Namun saat hendak mengambil umbut dari pohon sawit yang ditebang, ia melihat ada cairan bening dan agak kental yang keluar.

Dengan penuh rasa penasaran,  Juardi pun langsung mencicipi cairan yang keluar dari umbut sawit tersebut. Dan ternyata rasanya manis.

Ia pun secara diam-diam menampung cairan yang ada di umbut sawit. Lalu sesampainya di rumahnya, ia mencoba memasak semua cairan yang diperoleh dari umbut sawit yang ia dapat. Ia dan keluarganya kaget, cairan itu menjadi mengental. Ia terus melakukan beberapa kali percobaan terhadap cairan umbut yang didapat. Setiap cairan yang keluar dari umbut sawit di masak.

Kemudian ia bereksperimen untuk menambahkan gula putih ke cairan umbut sawit yang dimasak tersebut. Dan hasilnya mirip gula merah dari aren. Eksperimen terus dilakukan sampai kemudian Juardi meyakini kalau cairan umbut sawit itu bisa diproduksi menjadi gula merah sawit. Ia lalu mulai memproduksi secara massal gula merah sawit, lalu menjualnya secara bertahap.

“Awalnya susah, enggak ada yang mau gula merah sawit yang saya buat. Orang lebih suka gula merah aren,” ujarnya.

Tapi ia dan keluarganya tidak putus asa. Secara perlahan ia pun akhirnya dikenal sebagai produsen gula merah sawit dari Desa Sukasari, Kecamatan Pegajahan.  “Alhamdulilah, terkadang sehari omset saya kini bisa Rp 500.000 per hari. Kalau keuntungan bersih sekitar Rp 200.000 sampai Rp 300.000 per hari,” cetusnya.

Menurut informasi dari Infosawit.com, gula merah sawit yang ia jual dalam bentuk tepek, sama persis dengan gula merah aren. Setiap kilogram gula merah sawit ia jual dengan harga sekitar Rp 12.000 sampai Rp 13.000. Yang menarik, kini Juardi tak lagi perlu mencari pelanggan gula merah sawit. Sebab, kata dia, para pelanggan itu yang datang langsung ke tempat pembuatan gula merah sawit miliknya.

Pembelinya datang dari berbagai daerah seperti dari Medan, Siantar, Tebing Tinggi. (Berbagai sumber /KAMI Sergai).

24.515 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *