Olahan Makanan Berbahan Dasar Singkong Makin Diminati

Di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) banyak ditemukan industri rumahan, terutama di
Kecamatan Pegajahan. Salah satu yang banyak ditemui dan paling populer adalah pengolahan
ubi kayu atau singkong yang dibuat menjadi opak mentah atau keripik. Di Kecamatan Pegajahan,
tepatnya di Desa Bingkat dan Desa Sukasari, ada banyak industri rumahan yang bergerak di
bidang kuliner yang bahan dasarnya mengandalkan ubi kayu (singkong).

Penggunaan ubi kayu ini bukan tanpa alasan. Hal ini dilatarbelakangi karena kedua desa
tersebut merupakan penghasil ubi yang cukup besar, di samping masyarakatnya yang juga
banyak berprofesi sebagai petani padi.

Adanya produksi ubi kayu ini tentu dapat menjadi peluang usaha yang berperan
signifikan dalam menunjang perekonomian warga. Ini merupakan potensi besar yang bisa
dikembangkan di Sergai karena sumber daya yang melimpah dan didukung SDM yang cukup
mumpuni untuk mengolahnya.

Ubi kayu atau singkong merupakan salah satu sumber karbohidrat lokal yang cukup
tinggi dan menduduki urutan ke tiga setelah padi dan jagung. Ubi kayu tak hanya dijadikan
sebagai bahan dasar tepung dan olahan kue lainnya tapi dapat kita olah menjadi makanan ringan
seperti keripik yang siap saji, opak mentah baik yang original maupun yang balado atau rasa
lainya, opak lidah, mie ubi kayu, dan lain sebagainya.

Pada tahun-tahun yang lalu, sekitaran tahun 2015-2017 silam, opak ini kurang diminati
masyarakat. Industri rumahan ini masih cenderung sederhana, baik dari segi produksi,
pengemasan maupun pemasarannya. Bahkan dari cita rasanya pun belum memenuhi standar
kualitas yang layak untuk dipasarkan di pasar nasional apalagi internasional.

Jenis opak yang sering diperjualbelikan dan yang sering dikenal orang adalah opak lidah,
namun untuk varian rasa atau cita rasa opak itu sendiri juga masih cenderung kurang nikmat, dan
pemasarannya juga hanya dari rumah ke rumah saja. Hanya orang-orang yang kebetulan melintas
saja yang tahu jika di Desa Bingkat dan Sukasari ada produksi opak, karena cakupan
pemasarannya hanya dijual di rumah-rumah dan hanya di sekitaran desa itu saja. Di jual dalam
keadaan mentah dan belum dikemas, belum bermerk atau memiliki label.

Seiring berjalannnya waktu, masyarakat telah menekuni usahanya kini telah mendapat
pelatihan dan bimbingan. Kini perlengkapan yang mereka miliki untuk mengolah bahan baku
sudah memadai. Sebut saja mulai dari hand sealer (press plastik), alat pengiris ubi, gilingan ubi,
dan alat tempat peniris minyak goreng. Sehingga perlahan-lahan para UMKM ini dapat
mendorong usaha mereka demi kemajuan usahanya. Dengan tujuan meningkatkan keterampilan
mengolah hasil ubi kayu atau singkong menjadi makanan yang variatif, bergizi, dan mempunyai
cita rasa yang lebih enak.

Berkat cita rasa dan ciri khasnya yang tersendiri, membuat penganan opak ini semakin
dikenal masyarakat dan semakin banyak peminatnya baik di Sergai hingga ke luar daerah.
Dengan sendirinya makanan yang berbahan dasar ubi kayu/singkong ini akan memiliki nilai jual
yang tinggi, apa lagi dibarengi dengan pengemasan dan diberi merk/label yang membuat
makanan jenis opak ini semakin menarik perhatian konsumen, sehingga dapat meningkatkan
ekonomi masyarakat.

Melihat peluang ini, sepertinya butuh sentuhan inovasi dan kreativitas dari masyarakat
pengrajin opak. Misalnya dengan mempromosikan produk melalui media sosial. Era digitalisasi
membawa pengaruh positif dari industri rumahan. Jika pandai…bisa terus berpromosi diplafon
media Facebook maupun Istagram, dan tentunya produk yang dihasilkan juga harus dikemas
semenarik mungkin ya…

Yuk…mari kita dorong usaha lokal UMKM yang ada di Kabupaten Sergai. Dengan kita
aktif berbelanja produk UMKM, berarti kita mendorong usaha para UMKM yang ada di
Kabupaten Sergai untuk Maju Terus. (Berbagai sumber/KAMI Sergai)

2.095 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *